Senin, 17 Februari 2014

Ternyata Mangga Tak Semulus Kulit Luarnya.


Ternyata Mangga Tak Semulus Kulit Luarnya.
Oleh : Raisya Andhira

            Kini semuanya telah musnah. Sirna sudah harapan keluarga kepada anak sulungnya itu. Ibu Upik terperangah mendengar pengakuan anak adiknya itu. Berharap itu hanya sebuah lelucon. Namun setengah jam berlalu, tak ada ralat terhadap pernyataan itu. Ibu Upik pun lemas tak berdaya.
            Semenjak hari itu, Ibu Upik menjadi tidak banyak bicara. Ibu Upik adalah kakak dari Orangtua, sebut saja Mawar, 20 tahun. Mawar tinggal bersama Ibu Upik karena Ibu kandung Mawar, Almh. Sulastri telah meninggal tiga tahun lalu. Mawar adalah sulung dari tiga bersaudara. Ibu Upik tinggal bersama anak-anaknya dan Mawar serta adiknya di sudut Kota Padang. Ibu Upik bekerja seorang diri sebagai buruh cuci sedangkan suami Bu Upik telah lama meninggal. Ayah Mawar beristri lagi setelah kematian Sulastri. Ibu Upik giat bekerja untuk menyekolahkan ketiga anaknya dan ketiga anak adiknya. Ibu Upik tidak pernah membedakan mereka. Ibu Upik ingin melihat anak-anaknya sukses. Anak-anaknya sering membantu Ibu Upik menyertika pakaian pelanggan. Begitupun dengan si sulung, Mawar. Mawar tidak pernah gengsi mengantarkan pakaian-pakaian pelanggan yang telah selesai dicuci. Mawar adalah anak yang rajin dan pintar, sejak SD hingga SMA ia selalu mendapatkan juara satu. Selepas lulus Mawar melanjutkan ke perguruan tinggi. Ini memang amanah dari Sulastri. Ia meninggalkan tabungan untuk membiayai kuliah Mawar. Meskipun isi tabungan tersebut tidak begitu banyak, kira-kira hanya cukup untuk membiayai dua semester kuliah Mawar, namun Ibu Upik tidak putus asa, ia bertekad menguliahkan Mawar hingga Sarjana melihat kegigihan Mawar selama ini dalam belajar.
            Mawar di terima di Universitas Negeri Padang. di tahun pertama sungguh sangat sulit, uang yang ditinggalkan Sulastri hanya cukup untuk biaya kuliah saja. Tidak dengan biaya tetekbengek lainnya. Mawarpun mencari pekerjaan dan semakin giat berusaha untuk mendapatkan beasiswa.  Pak Rusli ayah Mawar seringkali menyelipkan kebanggaanya di sela-sela obrolan dengan tetangga, ibu Upik kadang merasa risih oleh sikap ayah Mawar yang terlalu berlebihan.
            Namun angin memang lebih kencang berhembus di tempat yang lebih tinggi. Mungkin Tuhan sedang menguji atau mungkin Tuhan marah. Si sulung yang selama ini menjadi kebanggaan bahkan menjadi panutan adik-adiknya. Kini sudah seminggu ada di rumah, ia telah mengambil cuti dari kuliahnya, ia mengurung diri di kamar menanti jawaban ibu Upik dengan gelisah karena sekarang perutnya mulai terlihat membesar.
            Siapa sangka gadis lugu yang pintar, yang secara sepintas terlihat seperti santri, kerudung panjang dan jilbab yang selalu menutupi auratnya. Tutur kata yang lemah lembut dan ambisi yang menyala seakan padam entah kenapa. “Apa yang sebenarnya kau cari? Apa yang kau tuju? Kenapa bisa? Kenapa begini? Terjebak nista! mau bagaimana sekarang?”, wajah ibu Upik mengguratkan kebingungan dan kekecewaan yang dalam, tatapannya kosong.
            Kehidupan teman-teman Mawar di kampus telah membawa Mawar ke pergaulan bebas. Awalnya Mawar hanya sekedar menjalin kasih dengan pengemudi angkot tampan di daerah tempat tinggalnya yang seumuran dengannya. Namun ternyata, Mawar lalai, dan terjadilah hal yang tidak diinginkan. Kini nasi telah menjadi bubur, tak ada alat yang bisa menghapus nama keluarga yang telah tercoreng, tak ada jalan yang bisa di tempuh dengan jalan suci. Janin yang kini berkembang tumbuh diperutnya adalah anak tak berdosa. Awalnya Mawar ingin menggugurkan kandungannya karena tak kuasa menanggung malu. Namun akhirnya ia membatalkan niat keji itu karena tak mau membuat dosa yang lain.
Ibu Upik masih saja bungkam perihal pengakuan anak sulungnya itu. Hatinya hancur berkeping-keping. Peluh yang telah ia korbankan untuk anaknya hanya berakhir sia-sia, hanya berbuah cacian dan cibiran tetangga. Tak ada lagi kebanggaan, tak ada lagi harapan, kekecewaan terlalu dalam melukai hati hingga tak ada lagi semangat untuk membiayai anak-anaknya sekolah.
Mawar yang semakin gundah karena tak ada respon lebih lanjut dari ibu Upik. Akhirnya Mawar memberanikan diri berbicara dengan ayahnya di temani pacarnya, kemarahan pun tak dapat terelakan lagi. Dengan percekcokan sengit dan sedikit kekerasan akhirnya pernikahanpun akan di gelar.  
Tak ada percakapan lagi ibu Upik memilih meninggalkan rumah ketika ijab qobul di gelar. Tak ada sedikit pun perasaan ingin menemani dan turut dalam acara. “Dia bukan anakku” itulah ucapan yang ia lontarkan ketika beberapa tetangga menanyainya. 


0 komentar:

Posting Komentar

mohon kritik dan saran
tapi jangan kejam kejam amat yak.huhu