Kamis, 27 Februari 2014

Pembagian jenis Kata


Pembagian jenis Kata

I.              PENDAHULUAN
Tata bahasa tradisional mengelompokkan kata atas sepuluh jenis, yaitu:
1.        Kata benda atau nomina
2.        Kata kerja atau atau verba
3.        Kata sifat atau adjektiva
4.        Kata ganti atau pronomina
5.        Kata bilangan atau numeralia
6.        Kata keterangan atau adverbial
7.        Kata sambung atau konjungsi
8.        Kata depan atau preposisi
9.        Kata sandang atau artikel
10.    Kata seru atau interjeksi
Penggolongan jenis kata tersebut di atas berdasarkan arti yang didukungnya. Arti yang dimaksud harus dipikirkan secara filosofis. Cara keja Aristoteles tersebut selalu mendapat sorotan dari para ahli tata bahasa. Pada abad XVI, seorang ahli tata bahasa Spanyol, Sanches de las Brozas, telah mengemukakan suatu pembagian jenis kata yang rasional dan structural, yaitu: nomen, verbum, dan particular. Tetapi kemudian, dalam abad XIX para ahli tata bahasa Barat lainnya kembali lagi ke dalam alam pikiran Yunani-Latin, dan mengemukakan sepuluh jenis kata seperti tersebut di atas.
Oleh karena ditemukan berbagai kelemahan pembagian jenis kata menurut tata bahasa tradisional seperti kata ganti sebagai suatu jenis kata yang sebenarnya adalah kata benda karena hanya menggantikan kata benda dalam keadaan tertentu, menyebabkan para ahli linguistic modern mencari jalan keluar. Mereka cenderung membuat penggolongan jenis kata yang lebih kecil seperti menggolongkan  kata atas empat jenis, yaitu:
1.      Kata benda atau nomina
2.      Kata kerja atau verba
3.      Kata sifat atau adjektiva
4.      Kata tugas ( Function Word)
Pembagian jenis kata tersebut di atas, berdasarkan bentuk atau struktur morfologinya. Dasar bentuk ini, menyangkut (1) kesamaan morfem, yang membentuk kata, dan (2) kesamaan cirri atau sifat dalam membentuk kelompok kata (frase) (Keraf, 1980: 83).
Pembagian jenis kata dalam bahasa Indonesia menurut S. Takdir Alisjahbana (1954: 95-96) sebagai berikut:
1.      Kata benda atau subtantiva, di dalamnya termasuk kata ganti atau pronominal.
2.      Kata kerja atau verba.
3.      Kata keadaan atau adjektiva, di dalamnya termasuk kata bilangan atau numeralia.
4.      Kata sambung atau konjungsi, di dalamnya termasuk kata depan atau preposisi.
5.      Kata seru atau interjeksi.
Partikel (-lah, -kah, dan -pun) dibicarakan dalam kelompok akhiran.
Dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia (1992: 76-249) ditemukan pembagian jenis kata sebagai berikut:
1.      Verba
2.      Nomina, pronominal, dan numeralia
3.      Adjektiva
4.      Adverbia
5.      Kata tugas
1)        Preposisi
2)        Konjungsi
3)        Interjeksi
4)        Artikel
5)        Partikel
Dalam pembagian jenis kata bahasa Bugis, penulis mengacu pada pembagian jenis kata yang tercantum dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia seperti yang tersebut di atas, tetapi penulis membicarakan tersendiri pronominal dan numeralia, dan juga mengubah susunannya sehingga menjadi sebagai berikut.
1.      Kata benda atau nomina
2.      Kata kerja atau verba
3.      Kata sifat atau adjektifa
4.      Kata ganti atau pronomina
5.      Kata bilangan atau numeralia
6.      Kata keterangan atau adverbia
7.      Kata tugas atau function word
1)      Kata depan atau preposisi
2)      Kata penghubung atau konjungsi
3)      Kata seru atau interjeksi
4)      Kata sandang atau artikel
5)      Partikel



























II.           PEMBAHASAN

A.      Kata Benda atau Nomina
Untuk menentukan kata benda dari jenis kata lainnya, digunakan kriteria (1) ciri morfologis, (2) ciri sintaksis, (3) ciri semantis.
1.    Ciri Morfologis
Ciri morfologis kata benda mencakup (1) afiksasi dan (2) klitisasi.
a)         Afiksasi
Kata yang berafiksasi sebagai berikut, termasuk jenis kata benda.
1)   Prefiks
Pa- , misalnya:
        Pattaneng ‘penanam’
        Parampoq ‘perampok’
        Pattudang ‘penerima tamu’
        Paqduppa ‘pengundang’
        Paqgere ‘pemotong’
Pappa- dan pappe-, misalnya:
        Pappalalo ‘perizinan’
        Pappedeceng ‘kebaikan’
        Pappejaq ‘kejahatan’
        Pappakatulutulu ‘penipuan’
Pappaka-, missalnya:
        Pappakatajang ‘penerangan’
        Pappakatuna ‘penghinaan’
        Pappakatanre ‘peninggian’
        Pappakacommoq ‘penggemukan’
        Pappakaleqbi ‘pemuliaan’
Pappasi-, misalnya:
        Pappasiala ‘pemecah belah’
        Pappasiereq ‘pemersatu’
        Pappasisumpung ‘penghubung’
       Pappasidapi ‘penyampai’
Passi-, misalnya:
       Passidapi ‘penyambung’
       Passiuno ‘pemberani dalam pembunuhan’
       Passigajang ‘pemberni dalam penikaman’
Semua prefix tersebut di atas, berintikan unsur pa-.
2)   Infiks
-ar-, misalnya:
       Gareqge ‘gergaji’
-al-, misalnya:
       Galenrung ‘sejenis bunyi lemparan’
3)   Sufiks
-eng, misalnya:
        Tudangeng ‘tempat duduk’
        Lewureng ‘tempat tidur’
        Tanengeng ‘bibit tanaman’
4)   Konfiks
a-      …  -eng, misalnya:
   Aleqbireng ‘kemuliaan’
   Atajangeng ‘keterangan’
   Apettung ‘keputusan’
Appa- … -eng, misalnya:
         Appaqbeneng ‘alat urusan memperisterikan’
         Appaqduangeng ‘pemusyrikan’
         Appaqdepu-repung ‘penghematan’
         Apparengngerangeng ‘peringatan’
Appasi- … -eng, misalnya:
         Appasisalang ‘hal tentang perselisihan’
         Appasibokoreng ‘hal tentang perseteruan’
         Appasidapireng ‘hal tentang persambungan’

Assi- … -eng, misalnya:
          Assisalang ‘perselisihan’
          Assobokoreng ‘perseturuan’
          Assidapireng ‘persambungan’
b)        Klitisasi
Klitisasi dalam hal ini berupa enklitik yang menyatakan milik, juga menjadi ciri jenis kata benda.
-na, misalnya:
      Sagenana ‘kelonggarannya’
      Siriqna ‘malunya’
      Riona ‘gembiranya’
-mu, misalnya:
      Sussamu ‘susahmu’
      Riomu ‘gembiramu’
      Sukkuruqmu ‘syukurmu’
-ku, misalnya:
      Eloku ‘mauku’
      Rioku ‘gembiraku’
      Saraku ‘sedihku’
2.    Ciri Sintaksis
Ciri sintaksis kata benda dapat ditemukan dalam struktursebagai berikut:
a)         Semua kata yang dapat diterangkan dengan kata sifat sehingga membentuk frase benda, digolongkan sebagai kata benda, misalnya:
Tau deceng ‘orang baik’
KB    KS
Anging maraja ‘angin kencangn’
   KB       KS
Wanua battoa ‘kampung besar’
   KB      KS
b)        Semua kata yang dapat menempati objek kata kerja transitif digolongkan kata benda. 
… Maqbaca boq… ‘membaca buku’
         KK     KB
… Maqbaluq beppa… ‘menjual kue’
         KK         KB
… Melli peqje… ‘membeli garam’
      KK    KB
3.    Ciri semantik
Jika diperhatikan secara seksama kategori kata benda, maka dapat disadari bahwa di balik kata itu terkandung pula konsep semantis tertentu. Misalnya:
Bola ‘rumah’: memiliki ciri semantis yang mengacu ke lokasi
Uleng ‘bulan’: memiliki ciri semantis yang mengacu ke waktu
Wase ‘kapak’: memiliki ciri semantis yang mengacu kea lat untuk mendorong benda yang besar.
Pappalengngi ‘pelicin’: mengacu kepada alat yang dapat melicinkan sesuatu

Jika ada kalimat yang melanggar ciri semantis seperti tersebut di atas, maka kalimat itu aka ditolak, misalnya:
*Piso ipake matteqbang aju.
‘Pisau dipakai menebang pohon kayu.’
*Wase ipake makkireq beppa.
‘kapak dipakai mengiris kue’
*Bola mattaneng ase.
‘rumah menanam padi.’

B.       Kata Kerja atau Verba
Untuk menentukan apakah suatu kata termasuk kata kerja atau tidak, ditempuh cara seperti yang dilakukan pada kata benda, sebagai berikut.
1.         Ciri Morfologis
Ciri morfologis kata kerja mencakup (1)afiksasi dan (2) klitisasi.
a)         Afiksasi
Semua kata berafiksasi sebagi berikut, termasuk jenis kata kerja.
1)      Prefiks
Ma-, misalnya:
         Maruki ‘menulis’
         Maqdareq ‘berkebun’
         Maqbengkung ‘mencangkul’
         Mallempa ‘memikul’
         Mappasipulung ‘mengumpulkan’
         Mangelli ‘membeli’
a-, misalnya:
         aqdekeng ‘berhitung’
         aqjama ‘bekerja’
         allotting ‘berkelahi’
         aruki ‘menulis’
ri-, misalnya:
         riala ‘diambil’
         risuro ‘disuruh’
         ritaro ‘ditaruh’
2)      Sufiks
-I, misalnya:
        Itai ‘lihat’
        Engkalingai ‘dengarkan’
        Kapeseqi ‘rabai’
b)        Klitisasi
Kata yang dilekati klitik dalam hal ini proklitik yang berperan sebagai pelaku, tergolong kata kerja.
u-, misalnya:
       uala ‘kuambil’
       usappa ‘kucari’
       ubaluq ‘kujual’
mu-, misalnya:
       muita ‘kaulihat’
       muakka ‘kauangkat’
       muelli ‘kaubeli’
ta-, misalnya:
       taita ‘kaulihat’ (bentuk hormat)
       taakka ‘kau angkat’
na-, misalnya:
       nabaca ‘dia baca’
       nauki ‘dia tulis’
       naelli ‘dia beli’
2.         Ciri Sintaksis
Ciri sintaksis kata kerja dapat ditemukan dalam struktur sebagai berikut:
a)         Semua kata yang dapat diiringi dengan kata sibawa = kata sifat yang tergolong kata kerja, misalnya:
Padangngi sibawa madeceng ‘beri tahukan dengan baik’
      KK
Werengngi sibawa cenning ati ‘berikan dengan ikhlas’
      KK
b)         Semua kata yang dapat diiringi oleh kata-kata yang mengisyaratkan waktu pelaku seperti di bawah ini.
Mattengngang, misalnya:
Mattengngang manre ‘sedang makan
                         KK
Mattengngang menung ‘sedang minum’
                          KK
Mattengngang tudang ‘sedang duduk’
                          KK

Pura, misalnya:
Pura rekeng ‘sudah hitung’
          KK
Pura cemme ‘sudah mandi’
          KK
Pura lewu ‘sudah baring’
         KK

Melo, misalnya:
Melo cenga ‘mau menengadah’
           KK
Melo giling ‘mau menoleh’
           KK
Melo menung ‘mau minum’
             KK

3.         Ciri Semantis
Fungsi utama kata kerja ialah sebagai predikat atau sebagai inti predikat dalam kalimat walaupun dapat juga mempunyai fungsi lain.
Kata kerja mengandung berbagai dasar makna dasar, misalnya:
Lari ‘lari’: mengandung mkna perbuatan
Malleqpoq ‘meledak’: mengandung makna proses
Matinro ‘tidur’: mengandung makna keadaan

Makna kata kerja tersebut di atas dapat dilihat, yang berfungsi sebagai predikat atau inti predikat, pada kalimat di bawah ini.
Tau ero mattengngang lari ‘orang itu sedang lari’
Bang oto malleqpoq ‘ban mobil meledak’
Anaq-anaq ero matinro tongeng ‘anak-anak itu tidur betul’

4.         Transposisi
Kata-kata kerja pun dapat dipindahkan jenisnya ke jenis kata lain dengan bantuan morfem terikat, misalnya:
Menung ‘minum’ menjadi parenung ‘peminum’ atau enungeng ‘tempat minum
   KK                                     KB                                     KB
Demikian juga sebaliknya, jenis kata lain dapat dialihkan menjadi jenis kata kerja, misalnya:
Elong ‘nyanyian’ menjadi makkelong ‘menyanyi’
 KB                                         KK
Bola ‘rumah’ menjadi maqbola ‘membuat rumah’.
KB                                   KK
C.      Kata Sifat atau Adjektiva
Untuk menentukan apakah suatu kata termasuk kata sifat atau tidak, ditempuh cara seperti yang dilakukan pada kata benda atau kata kerja, sebagai berikut.
1.         Ciri Morfologis
Dari segi ciri morfologis atau bentuk, kata sifat bahasa Bugis dapat berbentuk, misalnya:
Si-battoa-battoa-na      ‘se-besar-besar-nya’
Si-sakka-sakka-na        ‘se-lebar-lebar-nya
Si-lampe-lampe-na       ‘se-panjang-panjang-nya’
Si-kessing-kessing-na  ‘se-baik-baik-nya’
Si-jaq-jaq-na                ‘se-buruk-buruk-nya’
Si-taneq-taneq-na        ‘se-berat-berat-nya’
Si-ringeng-ringeng-na  ‘se-ringan-ringan-nya’
Si-cenning-cenning-na ‘se-manis-manis-nya’
Si-paiq-paiq-na            ‘se-pahit-pahit-nya
Si-pute-pute-na            ‘se-putih-putih-nya
Si-bolong-bolong-na    ‘se-hitam-hitam-nya
Jadi, kata battoa, sakka, lampe, kissing, jaq, taneq, ringeng, cenning, paiq, pute, dan bolong termasuk jenis kata sifat dalam bahasa Bugis.
Dalam cerita lama ditemukan rangkaian kata: joppani si-joppa-joppa-na ‘ia berjalan ke mana-mana’. Kata joppa (yang pertama) adalah kata kerja, sedangkan kata joppa-joppa yang diapit oleh si- dan –na hanya bersifat menerangkan.
Juga kata yang mengandung afiks sebagai berikut termasuk jenis kata sifat.
Ta- (taG-, tappa-, takka-), mari-, maqdi-, ka-…-ang
Misalnya:
Tattahang        ‘tertahan’
Tasseleng         ‘terkejut’
Taqgappo         ‘tertumbuk’
Tappaliweng    ‘terlanjur’
Takkapepeq     ‘terkepepet’
Mariolo            ;terdepan’
Mariwiring       ‘terpinggir’
Magdimunri     ‘kemudian’
Maqdiolo         ‘lebih dahulu’
Kaporeang       ‘keunggulan’
Kapujiang        ‘kepujian’

2.         Ciri Sintaksis
Dari segi frase, kata sifat dapat diterangkan oleh kata-kata: kaminang ‘paling’, leqbi ‘lebih’, siseng ‘sekali’.
Misalnya:
Kaminang battoa    ‘paling besar’
Leqbi battoa            ‘lebih besar’
Battoa siseng          ‘besar sekali’
Kaminang baiccuq  ‘paling kecil’  
Leqbi baiccuq         ‘lebih kecil’
Baiccuq siseng        ‘kecil sekali’
Kaminang tanre      ‘paling tinggi’
Leqbi tanre              ‘lebih tinggi’
Matanre siseng        ‘tinggi sekali’

3.         Ciri Semantik
Kata sifat atau adjektiva dapat juga dikenal dengan ciri gradasi semantisnya, seperti berikut.
Baiccuq                               ‘kecil’
Baiccu-iccuq                       ‘kecil-kecil’
Baiccuq laqdeq                   ‘kecil sekali’
Kaminang baiccuq              ‘paling kecil’

Mapute                                ‘putih’
Mapute-pute                       ‘putih-putih’
Ma[ute laqdeq                     ‘putih sekali’
Kaminang mapute               ‘paling pute’

Sogi                                     ‘kaya’
Sogi-sogi                             ‘kaya-kaya’
Sogi laqdeq                         ‘kaya sekali’
Kaminang sogi                    ‘paling kaya’
Sogi tallangka-langka         ‘kaya raya’
Jadi, kata baiccuq, mapute, sogi, adalah jenis kata sifat.

4.         Transposisi
Semua kata yang tergolong dalam kata sifat dapat berpindah jenis ke jenis kata lain dengan bantuan morfem terikat, misalnya:

Pute ‘putih’ menjadi mapute ‘menjadikan putih’, pappute ‘pemutih’, pappapute
KS                              KK                                         KB                             KB
 ‘alat untuk memutihkan’
Demikian juga sebaliknya, jenis kata lain dapat dipindahkan menjadi jenis kata sifat, misalnya:
Ukka ‘buka’ menjadi taqbukka ‘terbuka
KK                                   KS
Pere ‘geser’ menjadi tappere ‘bergeser’
KK                                 KS
Rempeq ‘lontar’ menjadi taqdempeq ‘terpelanting’
  KK                                       KS

D.      Kata Ganti atau Pronomina
Jika ditinjau dari segi artinya, kata ganti atau pronominal ialah kata yang dipakai untuk mengacu ke suatu nomina. Nomina Ali dapat diacu dengan pronominal alena ‘ia’. Bentuk –na pada Ali mapeqdi ajena ‘Ali sakit kakinya’, mengacu ke kata Ali
Jika dilihat dari segi fungsinya, dapat dikatakan bahwa pronominal atau kata ganti menduduki posisi yang umumnya diduduki oleh nomina atau kata benda, seperti subjek, objek, dan dalam jenis kalimat tertentu juga predikat.
Ada tiga macam kata ganti dalam bahasa Bugis, yaitu (1) kata ganti persona, (2) kata ganti petunjuk, dan (3) kata ganti penanya.
(1)     Kata Ganti Persona
a)      Kata ganti persona pertama
1)      Persona pertama tunggal
Iyaq ‘saya’, misalnya:
                    Iyaq maruki ‘saya menulis’
Aleku ‘diri saya’, misalnya:
                    Aleku molli ‘diri saya memanggil’
u- ‘ku-‘, misalnya:
                    ualai paqbura ‘kuambil ia obat’
-aq ‘saya’, misalnya:
                    Alakkaq ‘berikan saya
-ku ‘ku-‘, misalnya:
                    Bolaku ‘rumahku
Bentuk u- adalah proklitik, sedangkan bentuk –aq dan –ku adalah bentuk enklitik. Bentuk enklitik –ku menyatakan milik atau kepunyaan.
2)      Persona pertama jamak
Idiq ‘kita’, misalnya:
                  Idiq malai ‘kita mengambilnya’
Ta- ‘kita’, misalnya:
                 Talao ‘kita pergi’
                 Talaona ‘kita pergilah’
                 Talao bawanna ‘kita pergi saja’
-ta ‘kita’, misalnya:
                 Bolata ‘;rumah kita’
                  Jamatta ‘pekerjaan kita’
                  Aleta ‘diri kita’
Bentuk ta- adalah proklitik yang bervariasi dengan bentuk idiq sebagai bentuk bebas. Bentuk –ta adalah enklitik yang menyatakan milik.
b)      Kata ganti persona kedua
1)      Persona kedua tunggal
Iko ‘engkau’, misalnya:
                   Iko lao ‘engkau pergi’
                   Laono iko ‘pergilah engkau’
                   Iko malai ‘engkau mengambilnya’
Idiq ‘engkau’ (hormat), misalnya:
                   Joppaniq idiq ‘berangkatlah Anda’
                   Idiqna ‘engkaulah’
                   Idiq lolongengngi ‘engkau menemukannya’
2)      Persona kedua jamak
Untuk kata ganti persona kedua jamak, juga digunakan kata iko atau idiq, tetapi hanya diiringi dengan kata maneng atau kata pada yang mendahuluinya, yang berarti ‘semua’, misalnya:
Iko maneng (pada iko) parellu maqguru ‘engkau semua perlu belajar’
Iko maneng (pada iko) jamai ‘engkau semua mengerjakannya’
Idiq maneng (pada idiq) massumpung lolo ‘kita semua berkeluarga’
c)      Kata ganti persona ketiga
Kata ganti persona ketiga sama halnya dengan kata ganti persona kedua, yaitu ada yang mengacu pada persona tunggal dan ada yng mengacu pada persona jamak.
1)      Persona ketiga tunggal
Ia (alena) ‘ia, dia’, misalnya:
                               Ia (alena) malai ‘ia mengambilnya’
                               Ia taroi ‘ia menyimpannya’
                               Ia memeng ‘ia memang’
-na ‘-nya’, misalnya:
                               Bolana ‘rumahnya’
                               Jamanna ‘pekerjaannya’
                               Carana ‘caranya’
Bentuk –na adalah enklitik yang menyatakan milik.                           
2)      Persona ketiga jamak
Untuk kata ganti persona ketiga jamak, juga digunakan kata alena, tetapi hanya diiringii ‘ dengan kata maneng atau kata pada yang mendahuluinya, yang berarti ‘semua’, misalnya:
Alena maneng (pada alena) malai ‘mereka semua mengambilnya’
Bentuk enklitik –na di samping menyatakan milik persona ketiga tunggal, juga digunakan untuk menyatakan milik persona ketiga jamak, misalnya:
Jamanna ‘pekerjaannnya’
(2)     Kata Ganti Petunjuk
Kata ganti petunjuk dalam bahasa Bugis ada tiga macam, yaitu (1) kata ganti petunjuk umum, (2) kata ganti petunjuk tempat, dan (3) kata ganti petunjuk ihwal.
a)    Kata ganti petunjuk umum
Kata ganti petunjuk umum ialah: iyae ‘ini’, iyatu ‘itu’, iyaro ‘sana’, dan anu ‘anu’.
Iyae: mengacu ke acuan yang dekat pada pembicaraan atau ke masa sekarang, misalnya:
Iyae bola e maloppo ‘ini rumah besar’
Iyae wettu e, wettu paqbosing ‘ini waktu, waktu penghujan’
Iyatu: mengacu ke acuan yang agak jauh dari pembicara atau yang dekat pada lawan bicara ataukah ke masa lampau, misalnya:
Iyatu muala ‘itu kauambil’
Iyatu wettu e, wettu serang ‘itu waktu, waktu kemarau’
Iyaro: mengacu ke acuan yang jauh, baik dari pembicara maupun dari lawan bicara, ataukah ke masa yang lampau, misalnya:
Iyaro bola e, bola loppo ‘Di sana rumah itu, rumah besar’
Iyaro wettu e, wettu engngalang ‘waktu itu, waktu menuai’
Anu (yanu): mengacu ke acuan  yang tidak dapat disebutkan karena lupa atau karena tidak mau disebutkan, misalnya:
Anu naelli iwenniq ‘Anu dibeli kemarin’
Yanu naewa sibawa ‘Si ani dilawan bersama’
Kata ganti anu mengacu pada benda, sedangkan yanu mengacu pada orang.
b)   Kata ganti petunjuk tempat
Kata ganti penunjuk tempat dalam bahasa Bugis ialah: kuae ‘sini’, kuatu ‘situ’, dan kuaro ‘sana’. Perbedaan diantara ketiganya berdasar pada tempat pembicara. Yang dekat digunakan kuae ‘sini’, yang agak jauh digunakan kuatu ‘situ’, yang jauh digunakan kuaro ‘sana’. Karena kata-kata ini menunjuk tempat atau lokasi, kata ganti itu sering digunakan dengan preposisi pengacuan arah: ploe ‘dari’, lao ‘pergi’, ri ‘di’.
Misalnya:
Kuae mutaro ‘di sini kausimpan’
Pole kuae ‘dari sini’
Kuatu muolli ‘disitu kaupanggil’
Lao kuatu ‘pergi ke situ’
Kuaru mutaneng ‘di sana kautanam’
Pole kuaro ‘dari sana
c)    Kata ganti petunjuk ihwal
Kata ganti penunjuk ihwal (perihal) dalam bahasa Bugis ialah: makkuae ‘begini’, dan makkuatu ‘begitu’, juga makkuaro ‘demikian’, misalnya:
Makkuae sabaqna ‘begini sebabnya’
Makkuatu accappurenna ‘begitu akhirnya’
Makkuaro pada napoji e ‘begitu semua disukai’
Selain ketiga kata penunjuk tersebut di atas, walaupun tidak dapat disebut kata ganti ada juga kata yang digunakan untuk menegaskan hubungan bagian sebelumnya dengan bagian yang berikutnya, yaitu kata kuaena ‘yakni’, misalnya:
Maega bua-bua ibaluq ri pasa e, kuaena: panasa, pao, sibawa mannike
‘banyak buah-buahan dijual di pasar itu, yakni: nangka, mangga, dan semangka.
Maega manuq-manuq ri aleq e, kuaena: bekku, dangnga, sibawa dongi.
Banyak burung-burung di hutan, yakni: tekukur, nuri, dan pipit.
  
(3)     Kata Ganti Penanya
Kata ganti penanya adalah kata ganti yang dipakai sebagai alat penanya untuk mengetahui sesuatu. Dari segi maknanya, yang ditanyakan dapat berupa (1) orang, (2) barang, atau (3) pilihan. Kata ganti penanya yang dimaksud adalah sebagai berikut.
Niga ‘siapa’: dipakai untuk menanyakan orang atau nama orang, misalnya:
Niga yaro? ‘siapa itu?’
Aga ‘apa’: dipakai untuk menanyakanbarang, misalnya:
Aga muelli? ‘apa kaubeli?’
Aga nasappa? ‘apa dia cari?’
Kega ‘mana’: diapaki untuk menanyakan pilihan, misalnya:
Kega mupoji? ‘mana kausukai?’
Disamping ketiga kata ganti tersebut di atas, ada kata penanya yang lain, meskipun bukan kata ganti, yaitu: (1) magi ‘mengapa’, (2) uppanna ‘kapan’, (3) kegi ‘di mana’, (4) pekkogi ‘bagaimana’, (5) siaga ‘berapa’, misalnya:
Magi mumacai? ‘kanapa kaumarah?’
Uppanna mulao sompeq ‘kapan kaupergi berlayar?’
Kegi mutaro boqmu? ‘di mana kausimpan bukumu?’
Siaga ellina? ‘berapa harganya?’


E.       Kata Bilangan atau Numeralia
Kata bilangan atau numeralia ialah kata yang digunakan untuk menghitung banyaknya maujud (orang, binatang, atau barang) dan konsep. Frase seperti: dua ngngesso ‘dua hari’, tellu mpuleng ‘tiga bulan’, lima ttaung ‘lima tahun’, taung madua e ‘tahun kedua’, dan siaga-siaga masaala ‘beberapa masalah’ menhgandung kata bilangan, yaitu: dua ‘dua’, tellu ‘tiga’, lima ‘lima’, madua e ‘kedua, dan siaga-siaga ‘beberapa’, misalnya:
Dua ngngesso maqjama ‘dua hari bekerja’
Tellu mpenni laona sompeq ‘tiga malam perginya berlayar’
Lima ttaung jancinna ‘lima tahun janjinya’
Taung madua e makkukuae ‘tahun kedua yang sekarang’
Siaga-siaga masaala nasalai ‘beberapa masalah ditinggalkan’
Pada dasarnya dalam bahasa Bugis terdapat tiga macam kata bilangan, yaitu: (1) kata bilangan pokok yang member jawaban atas pertanyaan siaga? ‘berapa?’, (2) kata bilangan tingkat yang member jawaban atas pertanyaan ia masiaga e? ‘yang keberapa?’, dan (3) kata bilangan pecahan.
1.         Kata bilangan pokok
a.       Kata bilangan pokok tentu
0 = noloq
1 = seqdi
2 = dua
3 = tellu
4 = eppa
5 = lima
6 = enneng
7 = pitu
8 = arua
9 = asera
10 = seppulo
11= seppulo seqdi
dan sterusnya
b.      Kata bilangan pokok tidak tentu
Maega ‘banyak’, ceddeq ‘sedikit’, dan iyamaneng ‘semua’, contoh penggunaannya:
Maega bola ri kampong ero ‘banyak rumah di kampong itu’
Ceqdeq bawang tau maqjama ‘sedikit saja orang bekerja’
Iyamaneng pakkampong e pada engkani sipulung
‘semua penduduk sudah satang berkumpul’
2.         Kata bilangan tingkat
Kata bilangan pokok dapat diubah menjadi kata bilangan tingakat. Cara mengubahnya ialah dengan menambahkan unsure ma-…-(e). khusus bilangan pokok seqdi ‘satu’ dipakai juga istilah mammulang (e) ‘pertama’ disamping maseqdi (e)’kesatu’, misalnya:
Maseqdi(e) ‘kesatu’ atau mammulang(e) ‘pertama’
Madua(e) ‘kedua’
Matellu(e) ‘ketiga’
Malima(e) ‘kelima’
Maenneng(e) ‘keenam’
Mapetu(e) ‘ketujuh’
Marua(e) ‘kedelapan’
Masera(e) ‘kesembilan’
Maseppulo(e) ‘kesepuluh’
Maseppuloe(e) seqdi ‘kesebelas’
dan seterusnya.
3.         Kata bilangan pecahan
Kata bilangan pecahan dalam bahasa Bugis adalah sebagai berikut:
 - sitengnga atau tawa dua
 - tawa tellu atau bage tellu (na)
 - tawa eppa atau siparapeq atau bage eppaq (na)
 - tawa lima
 - tellu parapeq
 - dua bagiang pole ri (ki) tawa enneng e
 - sibagiang pole ri (ki) tawa seppulo e.
dan seterusnya

F.       Kata Keterangan atau Adverbia
Kata keterangan atau adverbial adalah kata yang member keterangan pada kata kerja, kata sifat, kata benda predikatif (nomina predikatif), atau kalimat. Comtoh penggunaannya dalam kalimat sebagai berikut.
Maelokaq mapperi-peri lesu ‘saya mau lekas-lekas pulang’
Kata mapperi-peri ‘lekas-lekas’ adalah kata keterangan yang menerangkan kata kerjakerja lesu.
Tau ero makkesing laddeq ‘orang itu baik sekali’
Kata laddeq ‘sangat’ adalah kata keterangan yang menerangkan kata sifat makessing.
Kakakuq paqgalummi ‘kakak saya cuma petani’
Kata mi ‘cuma’ (yang dirangkaikan dengan kata sebelumnya) adalah kata keterangan yang menerangkan nomina predikatif paqgalung ‘petani’.
Sikessing-kessingna lesu bawanno ‘sebaik-baiknya pulang saja’
Kata sikessing-kessing ‘sebaik-baiknya’ adalah kata keterangan yang menerangkan kalimat lesu bawanno ‘pulang saja’.
Kata keterangan dalam bahasa Bugis dapat diidentifikasikan dengan memperhatikan (bentuk), (2) struktur sintaksis, (3) maknanya.
1.         Bentuk keterangan
a.       Yang monomorfemis
Misalnya:
Laqdeq ‘keras’
Leqbi ‘lebih’
Sennaq ‘terlalu, sekali’
b.      Yang polimorfemis
Misalnya:
Mammekko-mekko ‘diam-diam’
Masittaq-sittaq ‘cepat-cepat’
Ati-ati ‘hati-hati’
Sitanre-tanrena ‘setinggi-tingginya’
Silamung-lamunna ‘sedalam-dalamnya’
Mate-mateang ‘mati-matian’
Mammaging-maging ‘mudah-mudahan’

2.         Struktur sintaksis keterangan
Dari segi struktur sintaksis, kata keterangan dapat mendahului atau mengikuti kata yang diterangkan, misalnya:
Matanre laqdeq ‘tinggi sekali’
Malasa laqdeq ‘sakit keras’
Leqbi panceq ‘lebih rendah’
Majaq sennaq ‘jelek sekali’
Masittaq-sittaq lesu ‘cepat-cepat pulang’
Lesu masittaq-sittaq ‘pulang cepat-cepat’
Mapperi-peri joppa ‘tergesa-gesa berjalan’
Joppa mapperi-peri ‘berjalan tergesa-gesa’
Ajaq muapperi-peri joppa! ‘jangan kautergesa-gesa berjalan’
Magi mumasittaq-sittaq lesu? ‘kanapa kaucepat-cepat pulang?’
Kata leqbi, laddeq, sennnaq, masittaq-sittaq, dan mapperi-peri adalah kata keterangan.

3.         Makna kata keterangan
Makna kata keterangan adalah ditinjau dalam kaitannya dengan unsur lain pada suatu struktur (kaitan relasional). Makna relasional kata keterangan dapat dilihat, baik pada frase maupun pada klausa atau kalimat.
Frase makessing laqde ‘sangat cantik’, kata makessing ‘cantik’ adalah inti dan laqde ‘sangat’ menjadi pewatasnya, deikian jufa frase toil pole ‘sering datang’, kata pole ‘datang’ adalah inti dan toli ‘sering’ menjadi pewatasnya. 
Frase makessing laqde ‘sangat cantik’ adalah frase sifat, sedangkan toil pole ‘sering datang’ adalah frase kerja. Kata laqde ‘sangat’ adalah kata keterangan pewatas kata sifat, sedangkan kata toil ‘sering’ adalah kata keterangan pewatas kata kerja.
Kata keterangan pewatas kata sifat, misalnya:
Kurang ‘kurang’
Leqbi ‘lebih’
Laqdeq ‘keras sekali’
Siseng ‘sekali’
Makkuaro ‘begitu’
Kata keterangan pewatas kata kerja, misalnya:
Toli ‘sering’
Wettu-wettu ‘sewaktu-waktu’
Pura ‘sudah’
Paulle ‘mungkin’
Kata keterangan yang jangkauannya meliputi seluruh kalimat atau klausa tidak terikat pada batas frase. Kata keterangan jenis itu biasanya dapat berpindah tempat dalam kalimat, misalnya:
Biasanna lesu I tetteq dua ‘biasanya ia pulang jam dua’
Lesu I biasanna tetteq dua ‘ia pulang biasanya jam dua’
Lesu I tetteq dua biasanna ‘ia pulang biasanya jam dua’
Kata biasanna adalah kata keterangan.kata keterang seperti biasanna ‘biasanya’ adalah sitongenna ‘sebenarnya’, sikessinna ‘sebaiknya’, samanna ‘rupanya, agaknya’.

G.      Kata Tugas
Disamping nomina, verba, adjektiva, dan adverbial, masih ada jenis kata lain yang mempunyai ciri khusus. Jenis kata yang dimaksud adalah kata tugas. Kata seperti ri ‘di, ke, dari’, silaong ‘dan, dengan, serta’ termasuk jenis kata tugas.
Ciri kata tugas dapat dilihat sebagai berikut:
1.         Ciri Morfologis
Hampir semua kata tugas tidak dapat mengalami perubahan bentuk. Jika dari jenis nomina dareq ‘kebun’ kita dapat mengubahnya menjadi paqdareq ‘tukang kebun’, pappaqdareq ‘pengelola kebun’; dari jenis verba uki ‘tulis’ kita dapat mengubahnya menjadi maruki ‘menulis’, paruki ‘alat menulis’; dari kata tugas seperti ri ‘di, ke, dari’, paleq ‘lah’, muto ‘juga’, tidak dapat menurunkan kata lain. Beberapa perkecualian, kata tugas seperti sabaq ‘sebab’, lettuq ‘sampai’, dapat berubah menjadi kata lain: nasabari ‘menyebabkan’, assabareng ‘penyebab’, mappalettuq ‘menyampaikan’, pappalettuq ‘penyampaian’.

2.         Ciri Sintaksis
Ciri sintaksis kata tugas dalam bahasa Bugis adalah sebagai berikut:
a.       Tidak dapat menempati posisi subjek dalam pola kalimat S-P
Ero masekkang ‘itu ganas’
b.      Dapat menduduki posisi perluasan subjek
Buaja emmi masekkang ‘buaya saja yang ganas’
c.       Tidak dapat menempati posisi predikat dalam pola kalimat
Buaja ero paleq ‘Buaya itu rupanya’
d.      Dapat menempati posisi perluasan predikat
Buaja ero masekkang tongeng ‘Buaya itu ganas betul’
e.       Dapat bersifat eksklusif dalam posisi intrakalimat
Makkoniro, caritana la Beu ‘begitulah, ceritanya La Beu’
f.       Dapat berada pada posisi antarklausa
Maelo mui lao narekko maccoe I anrinna ‘mau saja ia pergi jika mengikut adiknya’
g.      Tidak dapat menjadi inti dalam frase endosentrik, hanya dapat menjadi unit atribut, misalnya:
Buaja e ‘buaya itu’
Masekkang lanreq ‘ganas sekali’
Frase tersebut adalah frase endosentrik karena mempunyai distribusi yang sama dengan salah satu unsurnya, yaitu buaj dan masekkang. Buaja dan masekkang adalah unit inti, sedangkan e dan lanreq adalah unit atributif.
h.      Tidak dapat menjadi penanda dalam frase eksosentrik, hanya dapat menjadi penanda, misalnya:
Ri bolana ‘di rumahnya’
Frase tersebut ada;ah frase eksosentrik karena tidak mempunyai distribusi yang sama dengan salah satu atau semua unsurnya: bolana menduduki posisi petanda, sedangkan kata tugas ri ‘di’ hanya menduduki posisi penanda.

3.         Ciri Semantis
Berbeda dengan nomina, verba, adjektiva, dan adverbial, kata tugas hanya mempunyai arti gramatikal, tidak memiliki arti leksikal. Hal ini berarti bahwa arti suatu kata tugas ditentukan bukan oleh kata itu secara tersendiri atau secara lepas, tetapi oleh kaitannya dengan kata lain dalam frase atau kalimat. Sebagai contoh, jika untuk nomina seperti bola ‘rumah’ kita dapat memberika arti berdasarkan kodrat kata itu sendiri benda tang terdiri atas lantai, dinding, atap, dan sebagainya, utnutk kata tugas tidak berkeadaan seperti itu. Kata tugas seperti ri ‘di, ke, dari’ mempunyai arti bila dirangkaikan dengan kata lain, misalnya:
Monro ri bola e ‘tinggal ia di rumah itu’
Kata tugas dalam bahasa Bugis adalah jenis kata tertutup, artinya tidak mudah terpengaruh oleh unsur asing. Tidak seperti halnya kata lain di samping digunakan kata asseqding juga dipakai kata persatuang, kata paqdennuang, dengan kata pengharapang.
Kita dapat berkesimpulan bahwa kata tugas ialah kata yang tugasnya semata-mata memungkinkan kata lain berperanan dalam kalimat.

4.         Klasifikasi Kata Tugas
Berdasarkan peranannya dalam frase atau kalimat, kata tugas dibedakan atas lima kelompok: (1) preposisi, (2) konjungsi, (3) interjeksi, (4) artikel, (5) partikel.
a.         Preposisi
Preposisi atau kata depan ialah istilah kata tugas yang bertugas sebagai unsur pembentuk frase preposisional. Preposisional terletak pada posisi awal frase, dan unsur yang mengikutinya dapat berupa nomina, verba, atau adjektiva. Dengan demikian, dari nomina bola ‘rumah’, dari verba matinro ‘tidur’ atau adjektiva matoa ‘tua’ dapat kita bentuk frase preposisi ri bola e ‘di rumah’, mau matinro ‘meskipun tidur’, lettuq matoa ‘sampai tua’. Jenis frase ini disebut frase eksosentrik.
Kata di, mau, lettuq adalah preposisi.
Engka i ri bola e ‘ia berada di rumah’
Mau mattinro, toil mannenna to ‘meskipun tidur, selalu berbicara juga’
Lettuq matoa, de nataruba sipaqna ‘sampai tua, tidak berubah sifatnya’
b.        Konjungsi
Konjungsi atau kata penghubung ialah kata tugas yang menghubungkan dua kata, frase, klausa atau lebih. Kata seperti nennia ‘dan’, sibawa ‘dengan’, silaong ‘serta’, dan narekko ‘jika’ adalah konjungsi.
Reso nennia tinulu ‘kerja dan rajin’
Golla na kaluku ‘gula dan kelapa’
Temmangingngi sibawa asaqbarakeng ‘tidak jemu dengan kesabaran’
Masemmmeng mpenni silaong more ‘demam malam serta batuk kering’
Maelokaq lao narekko pajani bosie ‘saya mau pergi jika hujan berhenti’
c.         Interjeksi
Interjeksi atau kata seru ialah kata tugas yang merupakan cetusan rasa hati manusia. Untuk mencetuskan perasaan heran, syukur, dan sedih orang menggunakan kata tertentu di samping kalimat yang mengandung makna pokok yang dimaksud.
           Perasaan heran, misalnya:
Astragfirullah, magi muakkoro! ‘astagfirullah, mengapa begitu!’
           Perasaan syukur, misalnya:
Alhamdulillah, madisinno! ‘alhamdulillah, engkau dusah sehat!’
           Perasaan sedih, misalnya:
Ya, agana igokengngi! ‘ya, mau diapakan!’
d.        Artikel
Artikel atau kata sandang ialah kata tugas yang membatasi makna jumlah nomina. Ada artikel yang bermakna tunggal dan ada yang bermakna jamak atau kelompok.
           Yang bermakna tunggal
Ia: digunakan untuk mengiringi nama laki-laki, misalnya:
     La Dulla, La Hasang, La taleqbeq
I: digunakan untuk mengiringi nama perempuan, misalnya:
    I Sitti, I Becceq, I Sia
           Yang bermakna jamak
Yang bermakna jamak atau kelompok, biasa digunakan ikkeng atau yamanenna, misalnya:
Ikkeng rupa tau e ‘kaum umat manusia’
Yamanenna paqbaluq e ‘semua penjual’
e.         Partikel
Partikel yang biasa digunakan dalam bahasa Bugis ialah na ‘lah’, dan to ‘pun, juga’. Keadaannya seperti enklitik karena selalu dilekatkan pada kata yang mendahuluinya, misalnya:
Ajaqna mujampangi wi! ‘jangan kau hiraukan’
Maegato yapparelluang ‘banyak juga yang dibutuhkan’

III.        KESIMPULAN
Dalam pembagian jenis kata bahasa Bugis, penulis mengacu pada pembagian jenis kata yang tercantum dalam buku Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia seperti yang tersebut di atas, tetapi penulis membicarakan tersendiri pronominal dan numeralia, dan juga mengubah susunannya sehingga menjadi sebagai berikut.
1.      Kata benda atau nomina
2.      Kata kerja atau verba
3.      Kata sifat atau adjektifa
4.      Kata ganti atau pronomina
5.      Kata bilangan atau numeralia
6.      Kata keterangan atau adverbia
7.      Kata tugas atau function word
1)      Kata depan atau preposisi
2)      Kata penghubung atau konjungsi
3)      Kata seru atau interjeksi
4)      Kata sandang atau artikel
5)      Partikel
















DAFTAR PUSTAKA
Junus, H.A. M. 2004. Morfologi Bahasa Bugis. Makassar: Badan Penerbit Universitas Negeri     Makassar.

0 komentar:

Posting Komentar

mohon kritik dan saran
tapi jangan kejam kejam amat yak.huhu