Senin, 04 Maret 2013

Analisis Kebutuhan, Pembelajaran, dan Karakter Siswa


Analisis Kebutuhan, Pembelajaran, dan Karakter Siswa
1.      Kebutuhan
Kebutuhan adalah kesenjangan keadaan saat ini dibandingkan dengan keadaan yang seharusnya. Dengan kata lain, setiap keadaan yang kurang dari yang seharusnya menunjukan adanya kebutuhan.

2.      Analisis Kebutuhan
Analisis kebutuhan merupakan aktivitas ilmiah untuk mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat proses pembelajaran guna memilih dan menentukan media yang tepat dan relevan mencapai tujuan pembelajaran dan mengarah pada peningkatan mutu pendidikan. Analisis kebutuhan ditujukan untuk menentukan keperluan atau harapan yang ingin dimiliki warga belajar, setelah warga belajar menyelesaikan suatu jenjang pendidikan. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi penurunan kualitas dari kualifikasi yang harus dipenuhi.
Contoh
a.       Kebutuhan lulusan PGSM Pendidikan Bahasa Indonesia yang mahir membuat TPK pengajaran Bahasa Indonesia yang memenuhi komponen dari kriteria.
b.      Kebutuhan lulusan SLTP yang dapat membuat ringkasan cerita pendek.
Analisis ini dilaksanakan agar tidak terjadi penyimpangan dari yang seharusnya dikuasai.

3.      Analisis Pembelajaran
Menurut Abdul Razak (2011:2), analisis pembelajaran merupakan proses penjabaran prilaku umum menuju ke perilaku khusus yang tersusun secara logis dan sistematis. Dengan tersusunnya gambaran prilaku khusus dari yang paling awal hingga akhir. Selanjutnya menurut Dick dan Carrey (dalam Abdul Razak, 2011:4), analisis pembelajaran adalah seperangkat prosedur yang bisa diterapkan dalam suatu tujuan pembelajaran menghasilkan  identifikasi langkah-langkah yang relevan bagi  penyelengaraan suatu tujuan dan kemampuan subordinat yang dibutuhkan oleh mahasiswa untuk mencapai tujuan. Jadi analisis pembelajaran adalah proses menjabarkan kompetensi umum menjadi kompetensi khusus yang tersusun secara logis dan sistematik.
Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk mengidentifikasi perilaku-perilaku khusus yang dapat menggambarkan perilaku umum secara lebih terperinci. Dari susunan tersebut jelas kedudukan perilaku khusus yang dilakukan terlebih dahulu dari perilaku yang lain karena berbagai hal. Dengan melakukan analisis pembelajaran, akan tergambar susunan kompetensi khusus dari yang paling awal sampai yang paling akhir. Baik jumlah maupun susunan perilaku tersebut akan memberikan keyakinan kepada pengajar bahwa kompetensi umum yang tercantum dalam tujuan pembelajaran umum dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dengan perkataan lain, melalui tahap perilaku-perilaku khusus tertentu siswa akan mencapai perilaku umum. Perilaku khusus yang telah tersusun secara sistematik menuju perilaku umum itu laksana jalan yang singkat yang harus dilalui siswa untuk mencapi tujuannya dengan baik.

4.      Jenis Struktur Perilaku
Bila prilaku umum diuraikan menjadi prilaku khusus akan terdapat empat macam susunan yaitu
a.       Struktur Hierarkhikal
Struktur yang hierarkhikal adalah kedudukan dua prilaku yang menunjukan bahwa salah satu prilaku hanya dapat dilakukan bila telah dikuasai prilaku yang lain.
Contoh
1)      Kedudukan prilaku menetapkan Statistika Lanjutan dan menerapkan Statistika Dasar.
2)      Kedudukan prilaku mengukur luas sebidang tanah tertentu terhadap mengukur prilaku panjang benda.
3)      Kedudukan prilaku mengambil keputusan terhadap prilaku menganalisis alternatif pemecahan masalah.
b.      Struktur Prosedural
Strukutur prilaku prosedural adalah kedudukan beberapa prilaku yang menunjukkan satu seri urutan penampilan prilaku, tetapi tidak ada yang menjadi prilaku prasyarat untuk yang lain.
Contoh
1)      Dalam melakukan prilaku umum lari cepat.
2)      Dalam menggunakan OHP.
3)      Dalam mengetik dan menggunakan mesin ketik biasa.
c.       Struktur Pengelompokan 
Struktur pengelompokan yaitu prilaku khusus yang tidak mempunyai ketegantungan antara satu dengan yang lain walaupun semuanya berhubungan. Contohnya dalam menunjukan batas-batas provinsi.
d.      Struktur Kombinasi
Struktur kombinasi yaitu suatu prilaku umum yang bila diuraikan menjadi prilaku khusus sebagian besar akan terstruktur secara kombinasi antara struktur hirarkhikal, prosedural, dan pengelompokan.

5.      Prosedur Analisis Pembelajaran
a.       Menuliskan prilaku umum yang telah ada dalam tujuan pembelajaran umum untuk mata pelajaran yang sedang dikembangkan.
b.      Menuliskan  setiap prilaku khusus yang merupakan bagian dari prilaku umum.
c.       Membuat prilaku khusus kedalam daftar urutan yang logis dari prilaku umum.  
d.      Menambahkan prilaku khusus atau perlu dikurangi.
e.       Setiap prilaku khusus ditulis dalam lembar kartu atau kertas ukuran 3x5 cm.
f.       Kemudian kartu disusun dengan menempatkannya dalam struktur hirarkhis prosedural, atau dikelompokan menurut kedudukan masing-masing terhadap kartu lain.
g.      Bila perlu ditambah dengan prilaku khusus lain atau dikurangi sesuai kedudukan masing-masing.
h.      Letak prilaku digambarkan dalam bentuk kotak-kotak diatas kertas lebar sesuai dengan letak kartu yang telah disusun.
i.        Hubungkan kotak-kotak yang telah digambar dengan garis-garis vertikal dan horizontal untuk menyatakan hirarhikal, prosedural, dan pengelompokan.
j.        Meneliti kemungkinan hubungan prilaku umum yang satu dengan yang lain atau prilaku khusus yang berada di bawah prilaku umum yang berbeda.
k.      Memberi nomor urut pada setiap prilaku khusus dimulai dari yang terjauh hingga yang terdekat dari prilaku umum.

6.      Prilaku dan Karakteristik Siswa
Kegiatan menganalisis perilaku dan karakteristik siswa dalam mengembangkan pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima siswa apa adanya dan menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan siswa tersebut. Karakteristik siswa merupakan salah satu variabel pengajaran. Variabel ini didefenisikan sebagai aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa. Aspek-aspek ini bisa berupa bakat, minat, sikap, motivasi belajar, kemampuan berpikir, dan kemampuan awal (hasil belajar) yang telah dimilikinya.
Karakteristik sangat menentukan dalam proses pemilihan strategi pengolahan, yang berkaitan dengan bagaimana menata pengajaran, khususnya komponen-komponen, strategi pengajaran agar sesuai dengan karakteristik perseorangan siswa.
Dua macam informasi diperlukan agar bisa menyusun program pengajaran dengan baik.
Pertama : “obyektif” atau tujuan instruksional khusus.
Kedua      : kemampuan awal dan karakteristik siswa.
“Objektif” atau tujuan instruksional khusus adalah kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa manakala ia telah selesai mengikuti suatu program pengajaran. Sedang yang dimaksud dengan kemampuan awal dan karakterisrik siswa adalah kemampuan dan ketrampilan yang relevan, termasuk di dalamnya yang lain-lain latar belakang informasi karakteristik siswa yang telah ia miliki pada saat akan mulai mengikuti suatu program pengajaran.
Problem sering terjadi bahwa para penyusun desain instruktursional maupun para guru atau pendidik keliru di dalam memperkirakan kemampuan dan keadaan siswa. Kadang-kadang perkiraan itu terlalu rendah (under estimate), namun kadang perkiraan itu terlalu tinggi (over estimate). Manakala terjadi problem pertama dimana guru memperkirakan kemampuan siswa terlalu rendah, maka akan terjadi bahwa ia mengerjakan sesuatu yang tidak perlu. Dengan kejadian ini terjadi penghamburan waktu yang sangat berguna bahkan membuat siswa bosan. Sedangkan manakala terjadi bahwa guru memperkirakan terlalu tinggi akan kemampuan siswa yang akan diajarnya, maka siswa tersebut akan tidak memiliki latar belakang pengetahuan yang diperlukan dan siswa akan mengalami kesulitan didalam mengikuti pelajaran tersebut.
Dalam hal ini guru perlu memberikan pengejaran pendahuluan untuk menyiapkan siswa agar dapat dengan mudah mengikuti pelajaran yang dimaksud. Untuk mengatasi problem-problem tersebut, guru perlu memiliki keterampilan di dalam menganalisis kemampuan dan karakteristik siswa. Bagaimana caranya? Adalah menjadi kelaziman bahwa para guru atau pendidik untuk mencatat atau memperhatikan akan adanya perbedaan-perbedaan individual diantara para siswanya. Mereka mengetahui bahwa siswa datang ke sekolah dengan membawa berbagai bekal kemampuan. Mereka mengetahui pula bahwa para siswa datang dari berbagai latar belakang keluarga yang berbeda-beda.
Di dalam menyusun rencana pengajaran, adalah sukar untuk dapat sepenuhnya melayani masing-masing individual yang satu sama lain berbeda tersebut. Oleh karena itu, cara yang terbaik adalah menyusun rencana pengajaran yang sebaik-baiknya yang dapat memenuhi keadaan siswa yang sebanyak-banyaknya. Oleh karena itulah pengetahuan, kemampuan atau keterampilan dalam “menganalisis kemampuan awal dan karakteristik siswa” sangat penting baik bagi para penyusun desain instruksional, para guru maupun para ahli media dan teknologi pendidikan. Di dalam menganalisis karakteristik siswa, ada tiga hal yang perlu diperhatikan.
1.      Karakteristik atau keadaan yang berkenaan dengan kemampuan awal atau “prerequisite skills” seperti : kemampuan intelektual, kemampuan berfikir, mengucapkan, dan kemampuan gerak atau “psychomotor skills”, misalnya keterampilan menggerakkan tangan, kaki, dan badan.
2.      Karakteristik yang berhubungan dengan latar belakang dan status sosial dan kebudayaan (sociocultural).
3.       Karakteristik yang berkenaan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian seperti: sikap, perasaan, minat, dan sebagainya.
Kegunaaan mengetahui semua aspek keadaan individu siswa tersebut adalah untuk dapat memilih pola-pola pengajaran yang lebih baik, yang paling menjamin kemudahan belajar bagi setiap siswa. Para guru, para ahli media dan teknologi pendidikan, hendaknya dapat menganalisis keadaan siswa dengan mengetahui pertanyaan-pertanyaan yang perlu disampaikan, begaimana mendapatkan jawab atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dan kemudian dapat menafsirkannya dalam arti menjelmakannya dalam strategi instruksional yang sesuai dengan keadaan siswa. Dengan demikian prinsip penyusunan desain instruksional yang sebaik-baiknya untuk setiap individu akan melengkapi prinsip penyusunan desain instruksional yang paling baik untuk siswa yang paling banyak.
7.      Teknik Analisis Karakteristik Awal Siswa
Pada dasarnya analisis karakteristik siswa dilaksanakan dengan kita mengetahui kemampuan awal dan lain-lain informasi yang dapat kita peroleh dari siswa tersebut.
Dalam hal ini bias dikemukakan adanya empat teknik yaitu
a.       Dengan menggunakan catatan-catatan atau dokumen yang tersedia. Dokumen yang dimaksud misalnya nilai Surat Tanda Tamat Belajar (STTB), nilai rapor, nilai tes intelegensi, dan nilai tes masuk. Catatan-catatan mengenai prestasi dalamn berbagai bidang kegiatan yang pernah diperoleh, kesemuanya merupakan informasi yang sangat berguna untuk mengetahui keadaan siswa.
b.      Dengan menggunakan tes prasyarat dan tes awal. Tes prasyarat adalah tes untuk mengetahui apakah siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan yang diperlukan atau disyaratkan untuk mengikuti suatu pelajaran. Sedangkan tes awal adalah tes untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan mengenai ajaran yang hendak diikuti. Sangat baik sekali bagi guru untuk mengadakan pre tes sebelum memulai suatu unit pelajaran. Hasil pre tes sangat berguna di samping untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan yang telah dimiliki juga berguna sebagai perbandingan dengan hasil yang dicapai setelah mengikuti pelajaran.
c.       Dengan mengadakan konsultasi individual. Dengan mengadakan konsultasi individual terhadap siswa, amak guru akan lebih dapat mengadakan pendekatan secara personal untuk guru memperoleh informasi mengenai minat, sikap, keinginan siswa, dan sebagainya.
d.      Dengan menyampakan angket atau questionnaire. Angket bisa disusun kemudian disampaikan kepada siswa misalnya untuk mengetahui gaya belajar mereka. Gaya belajar ada bermacam-macam misalnya: dependent, independent, competitive, participant, dan sebagainya. Dengan mengetahui gaya belajar siswa, guru akan dapat menyusun rencana pembelajaran sesuai dengan keadaan kelompok siswa tersebut. Misalnya bila kebanyakan gaya belajar siswa dalam suatu kelas adalah independent, adalah tepat sekali kalau guru menyusun strategi instruksional yang memungkinkan siswa belajar sesuai dengan kecepatan dan kesempatan masing-masing.





















KEPUSTAKAAN
Gafur, Abdul. 1980. Desain Instruksional. Solo: Tiga Serangkai.
Suparman, Atwi dan Purwanto. 1997. Analisis Pembelajaran. Jakarta: Depdikbud.
Razak, Abdul. 2011. Analisis Pembelajaran dan Identifikasi Perilaku dan Karakterisitik Awal Siswa.
Setijdadi. 1992. Disain Instruksional. Padang: UNP Press.

PERENCANAAN PENGAJARAN BAHASA


PERENCANAAN PENGAJARAN  BAHASA
A.    BATASAN
1.      Perencanaan
Menurut Akhlan Husein dan Rahman (1996:3), perencanaan adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu pencapaian suatu hasil yang diharapkan. Sependapat dengan Husein, menurut Hidayat (dalam Husein,1996:3), perencanaan adalah sebagai suatu proses penyusunan berbagai keputusan yang akan dilaksanakan dalam pencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Selanjutnya menurut asumsi Terry (dalam dheanurulagustina,online) ia menyatakan bahwa perencanaan adalah menetapkan pekerjaan yang harus dilaksanakan oleh kelompok untuk dapat mencapai tujuan yang telah digariskan.
Jadi dari pendapat para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa perencanaan itu adalah hasil pemikiran yang berupa keputusan yang akan dilaksanakan. Pemikiran yang dirumuskan berupa perencanaan itu biasanya disusun logis, sistematis, rasional, dan dapat dibuktikan kebenarannya.

2.      Pembelajaran
Akhlan Husein dan Rahman (1996:3) menyatakan bahwa pembelajaran mengandung pengertian proses, cara, menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Selanjutnya menurut Oemar Hamalik (dalam dhenurulagustina,online), pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Tarigan dan Husein (dalam dheanurulagustina,online) juga menyatakan bahwa pembelajaran adalah proses belajar. Pembelajaran merupakan proses belajar yang dilakukan oleh siswa dalam memahami materi kajian yang tersirat dalam pembelajaran. Pembelajaran bersinonim dengan istilah proses belajar, kegiatan belajar, atau pengalaman belajar. Pembelajaran menjadi titik tolak dalam merancang, merencanakan, dan mengevaluasi proses belajar mengajar bahasa Indonesia
Jadi dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar

3.      Pengajaran
Menurut Jones A. Majid (dalam fisika79wordpress,online),  pengajaran adalah suatu cara bagaimana mempersiapkan pengalaman belajar bagi peserta didik. Dengan kata lain pengajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh para guru dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar. Sependapat dengan Majid, menurut Tardif (dalam Muhibin,1987:35), pengajaran adalah memberi arti instruction secara lebih rinci yaitu a preplanned, goal directed educational process designed tofacilitate learning, artinya adalah sebuah proses kependidikan yang sebelumnya direncanakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan serta dirancang untuk mempermudah belajar.

Jadi dari beberapa kesimpulan di atas dapat disimpulkan bahwa pengajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh para pendidik dalam membimbing, membantu dan mengarahkan peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar.

4.      Perencanaan Pembelajaran
Menurut Akhlan Husein dan Rahman (1996:3), perencanaan pembelajaran adalah suatu proses penyusunan serangkaian kegiatan untuk menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Sependapat dengan Husein dan Rahman, menurut Banghart dan Trull (dalam dheanurulagustina,online), perencanaan pembelajaran merupakan proses penyusunan materi pelajaran, penggunaan media pembelajaran, penggunaan pendekatan atau metode pembelajaran, dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa satu semester yang akan datang untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Jadi dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran adalah proses yang di atur sedemikian rupa menurut langkah-langkah tertentu baik berupa penyusunan materi pengajaran, penggunaan media, maupun model pembelajaran lainnya yang dimaksudkan agar pelaksanaannya berjalan optimal.
B.     KEGUNAAN PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Terdapat beberapa fungsi yang dikemukakan oleh Oemar hamalik (pragmatikbahasaindonesia,online) bahwa pada garis besarnya perencanaan pembelajaran berfungsi sebagi berikut.
1.      Memberi guru pemahaman yang lebih jelas tentang tujuan pendidikan sekolah dan hubungannya dengan pembelajaran yang dilakukan untuk mencapai tujuan itu.
2.      Membantu guru memperjelas pemikiran tentang sumbangan pembelajarannya terhadap pencapaian tujuan pendidikan.
3.      Menambah keyakinan guru atas nilai-nilai pembelajaran yang diberikan dan prosedur yang digunakan.
4.      Membantu guru dalam rangka mengenal kebutuhan-kebutuhan siswa, minat-minat siswa dan mendorong motivasi belajar.
5.      Mengurangi kegiatan yang bersifat trial dan error dalam mengajar dengan adanya organisasi yang baik dan metode yang tepat.
6.      Membantu guru memelihara kegairahan mengajar dan senantiasa memberikan bahan-bahan yang up-todate pasa siswa.

C.     PEMBELAJARAN BAHASA SEBAGAI SUATU SISTEM
1.      Pengertian Sistem
Menurut KUBI Poerwadarminta (dalam Husein dan Rahman,1997:7), sistem mengandung tiga pengertian. Pengertian yang pertama, sistem yakni sekelompok bagian-bagian yang bekerja bersama-sama untuk melakukan suatu maksud. Pengertian kedua, sistem adalah sekelompok pendapat, peristiwa kepercayaan, yang disusun dan diatur baik-baik. Sedangkan pengertian ketiga, sistem yaitu cara (metode) yang teratur untuk melakukan sesuatu. Selanjutnya menurut Teknologi Instruksional (dalam Husein dan Rahman,1997:7), sistem adalah serangkaian komponen/bagian yang saling berkaitan dan berfungsi ke arah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan terlebih dahulu. Pendapat tersebut didukung oleh buku Disain Instruksional (Gafur,1982:14) yang menjelaskan sistem sebagai suatu gabungan dari komponen-komponen yang terorganisir sebagai suatu kesatuan, dengan maksud untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
            Jadi dari pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa sistem adalah gabungan komponen yang bekerja sama dan saling berpengaruh dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan.
2.      Ciri-ciri Sistem
a.       Sistem memiliki tujuan. Tujuan inilah yang menjadi pemotivasi yang mengarahkan sistem. Tanpa tujuan, sistem menjadi tak terarah dan tak terkendali. Tujuan  antara satu sistem dengan sistem yang lain berbeda.
b.      Sistem terdiri dari sejumlah komponen yang saling berinteraksi, yang artinya saling bekerja sama membentuk satu kesatuan. Komponen-komponen sistem atau elemen-elemen sistem dapat berupa suatu subsistem atau bagian-bagian dari sistem. Setiap subsistem mempunyai sifat-sifat dari sistem untuk menjalankan suatu fungsi tertentu mempengaruhi proses sistem secara keseluruhan. Adapun yang dimaksud dengan gabungan komponen adalah gabungan yang melaksanakan suatu fungsi untuk menunjang usaha mencapai tujuan sistem. Penunjang usaha tersebut ada yang tergolong ke dalam komponen integral dan ada pula yang tergolong ke dalam komponen yang nonintegral. Komponen integral adalah bagian dari sistem yang tidak boleh dipisahkan dari sistem tersebut, Kehadirannya mutlak diperlukan, tanpa komponen ini tidak  akan mencapai tujuan. Sedangkan komponen nonintegral adalah bagian dari sistem yang apabila tidak berfungsi atau dihilangkan tidak akan membekukan sistem.
c.       Sistem memiliki fungsi maksudnya suatu sistem yang akan bergabung dengan komponen lain selalu mempunyai fungsi. Fungsi inilah nantinya yang akan menentukan pentingnya sebuah sistem.
d.      Adanya interaksi dalam suatu sistem maksudnya adalah komponen-komponen yang bergabung dalam sistem akan berinteaksi untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai oleh sistem tersebut.
e.       Adanya keterpaduan dalam suatu sistem maksudnya adalah komponen-komponen dalam suatu sistem berpadu membentuk suatu kesatuan agar mencapai tujuan yang ingin dicapai.
f.       Sistem mempunyai proses transformasi atau proses pengubahan masukan menjadi hasil maksudnya adalah sistem dapat mengubah sesuatu yang dimasukan ke dalam sistem menjadi suatu yang lebih bermanfaat dari sebelum benda tersebut dimasukan ke dalam sistem.
g.      Sistem punya mekanisme umpan balik maksudnya adalah mekanisme pengendalian diwujudkan dengan menggunakan umpan balik, yang mencuplik hasil dari masukan yang dimasukan ke dalam sistem. Umpan balik ini digunakan untuk mengendalikan baik masukan maupun proses. Tujuannya adalah untuk mengatur agar sistem berjalan sesuai dengan tujuan.
h.      Sistem mempunyai lingkungan atau batas-batas maksudnya adalah lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di luar sistem. Lingkungan bisa berpengaruh terhadap operasi sistem dalam arti bisa merugikan atau menguntungkan sistem itu sendiri. Yang disebut batas sistem adalah pemisah antara sistem dan daerah di luar sistem. Batas sistem menentukan konfigurasi, ruang lingkup, atau kemampuan sistem.
            Pembelajaran sebagai suatu sistem merupakan suatu pendekatan belajar yang menekankan hubungan sistemik antara berbagai komponen dalam pembelajaran. Hubungan sistemik mempunyai arti bahwa semua komponen yang terpadu dalam satu pembelajaran sesuai dengan fungsinya saling berhubungan satu sama lain dan membentuk suatu kesatuan. Hubungan sistemik atau penekanan kepada sistem merupakan ciri pertama dari pembelajaran. Ciri kedua adalah penekanan pada prilaku yang dapat diukur atau diamati.
Di dalam suatu pembelajaran tentunya terdapat sebuah sistem agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan terarah tepat sasaran. Apabila sistem pendidikan nasional ingin lebih diorientasikan kepada penyiapan sumber daya manusia era informasi maka yang terlebih dahulu dilakukan adalah pengembangan sistem pembelajarannya.
D.    KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN BAHASA
Karakteristik perencanaan pengajaran menurut Akhlan dan rahman (1997:7) sebagai berikut.
1.      Mengembangkan hubungan interaksi yang baik diantara sesama manusia, dalam hal ini siswa dan guru serta personal terkait.
2.      Merupakan suatu wahana atau wadah untuk mengembangkan segala potensi yang ada dan dimiliki oleh anak didik.
3.      Memiliki sikap objektif rasio (teoat dan masuk akal), komprehesif dan sistematis menyeluruh dan tersusun rapi).
4.      Mengendalikan kekuatan sendiri, bukan didasarkan atas kekuatan orang lain.
5.      Didukung oleh fakta dan data yang menunjang pencapaian tujuan yang telah dirumuskan.
6.      Fleksibel dan dinamis, artinya mudah disesuaikan dengan keadaan serta perkembangan ke arah yang lebih baik dan maju.





KEPUSTAKAAN

Husein, Akhlan & Rahman. 1996. Perencanaan Pengajaran Bahasa. Jakarta: Depdiknas.
Gafur, Abdul. 1980. Disain Instruksional. Solo: Tiga Serangkai.
Nurul, Dhea. 2012. “Perencanaan Pembelajaran”. (online). (www.dheanurulagustina.blogspot.com, 11 Februari 2013).
Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. (online). (http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/definisi-pembelajaran.html, 11 Februari 2013).
Fisika79. 2011. “Pengertian Pengajaran”. (online). (http://fisika79.wordpress.com/2011/04/26/pendidikan-dan-pengajaran/, 11 Februari 2013).
PragmatikbahasaIndonesia. 2012. “Perencanaan Pembelajaran”. (online). (http://pragmatikbahasaindonesia.blogspot.com/2012_05_01_archive.html, 12 Februari 2013).





PENGEMBANGAN SISTEM PERENCANAAN PEMBELAJARAN


PENGEMBANGAN SISTEM PERENCANAAN PEMBELAJARAN
A.      Pengertian Pengembangan Sistem Pembelajaran
Pengembangan mengandung pengertian cara membuat tumbuh secara teratur untuk menjadikan sesuatu lebih besar, lebih baik, lebih efektif, dan sebagainya (Husein dan Rahman,1997:28). Selanjutnya pengembangan sistem mengandung maksud cara membuat penjabaran, pelengkapan komponen sistem agar setiap komponen tumbuh (dalam Husein dan Rahman,1997:28). Seterusnya Ely mengemukakan pendapatnya bahwa pengembangan sistem pembelajaran berarti suatu proses secara sistematis dan logis untuk mempelajari problem-problem pembelajaran agar mendapat pemecahan yang teruji validitasnya, dan praktis bisa dilaksanakan (dalam Husein dan Rahman,1997:28).
Istilah yang berhubungan dengan pengembangan pembelajaran ialah sistem instruksional dan disain instruksional. Menurut Baker (dalam Husein dan Rahman,1997:28), sistem instuksional adalah semua materi (konsep) pembelajaran dan metode yang telah diuji dalam praktek yang dipersiapkan untuk mencapai tujuan dalam keadaan yang sebenarnya. Adapun yang dimaksud dengan disain instuksional adalah adalah keseluruhan proses analisis kebutuhan dan tujuan serta pengembangan teknik mengajar dan materi pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dalam kegiatan ini termasuk pengembangan paket pembelajaran, kegiatan mengajar, uji coba, revisi, dan kegiatan evaluasi hasil belajar (Briggs dalam Husein dan Rahman,1997:28).
Jadi dapat disimpulkan bahwa antara pengembangan sistem pembelajaran dengan  sistem instruksional dan desain instruksional ada kesamaan dan keterkaitan. Pengembangan sistem pembelajaran menekankan pada proses yang sistematis dan logis. Sistem instruksional menekankan pada materi dan metode; dan desain instruksional menekankan pada kebutuhan, tujuan, teknik, materi pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Keterkaitan ini mengarah pada tujuan yang ingin dicapai, yaitu tujuan pembelajaran.

B.      Dasar Pengembangan Sistem Perencanaan Pembelajaran
Pengembangan sistem instruksional perencanaan pembelajaran didasarkan atas empiris dan prinsip yang telah teruji.
1.       Empiris
Pengembangan berdasarkan empiris berarti pengembangan yang berdasarkan pengalaman. Untuk pemerolehan pengalaman, banyak kegiatan yang telah dilakukan orang. Salah satu contoh kegiatan yang bersifat empiris ialah penelitian tentang kurikulum pendidikan.
Kurikulum sekolah pendidikan dasar dan menengah di Indonesia sejak tahun 1968 sampai dengan tahun 1996/1997 telah mengalami tiga kali perubahan.
Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 1968 sering disebut Kurikulum 1986 diubah menjadi Kurikulum Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 1975 (sering disebut kurikulum 1975). Selama lebih kurang delapan tahun pemberlakuan Kurikulum 1986, pada tahun 1975 diubah dan disempurnakan menjadi Kurikulum 1975.
Kurikulum 1975 mulai berorientasi kepada tujuan yang ingin dicapai warga belajar. Kurikulum ini berlaku lebih kurang sembilan tahun, karena diubah menjadi Kurikulum Penddikan dasar dan Pendidikan menengah 1984 (sering disebut Kurikulum 1984).
Kurikulum 1994 adalah penyempurnaan Kurikulum 1984. Dalam kurikulum ini komponen tujuan yang ingin dicapai siswa tetap ada, namun namanya yang pada Kurikulum 1984 disebut tujuan kurikuler, tujuan instruksional, pada Kurikulum 1994 istilahnya tujuan pembelajaran umum (TPU), tujuan pembelajaran khusus (TPK). Sistem unit pun dilebur menjadi sistem tema/anak tema. Bahan pelajaran diganti istilahnya menjadi konsep pembelajaran. Pada pembelajaran harus terdapat empat keterampilan berbahasa (menyimak, berbicara, membaca, dan menulis).

2.       Prinsip yang Telah Teruji
Prinsip yang telah teruji senantiasa melalui langkah prosedur yang sistematis, pengamatan yang tepat, dan percobaan terkontrol.
a.       Prosedur yang Sistematis
Prosedur yang dimaksud adalah suatu tahap kegiatan untuk menyelesaikan suatu aktivitas. Aktivitas ini dilaksanakan langkah demi langkah secara pasti dalam memecahkan suatu problem. Sistematis berarti satu langkah dengan langkah lainnya berhubungan saling berpengaruh, saling mendukung yang memungkinkan aktivitas itu berjalan lancar.
Komponen proses belajar mengajar adalah.
1)      Tujuan Pembelajaran
Langkah pertama proses belajar mengajar ialah penentu tujuan. Tujuan pembelajaran adalah sesuatu yang ingin dicapai siswa setelah menyelesaikan suatu konsep pembelajaran. Perumusan tujuan pembelajaran umum telah ditulis dalam Garis-Baris Besar Program Pengajaran (GBPP). Komponen tujuan pembelajaran adalah suatu tahap kegiatan belajar mengajar yang turut memecahkan problem pengajaran.
2)      Murid
Murid adalah orang yang melaksanakan pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Murid dalam suatu kelompok harus memiliki karakteristik yang relatif sama. Untuk penentuan karakteristik lazim digunakan empat teknik penentukan karakteristik siswa, mengkaji dokumen, tes, wawancara, dan observasi.
3)      Guru
Guru adalah orang yang menggerakkan suatu proses belajar. Tanpa profesionalisme suatu proses belajar mengajar tidak mungkin mencapai hasil yang baik. Keberadaan guru yang profesional mutlak menjadi dasar pengembangan sistem pembelajaran.
4)      Konsep Pembelajaran
Konsep pembelajaran mengandung berbagai materi pembelajaran yang harus dikaji warga belajar. Dengan menguasai sejumlah konsep pembelajaran berarti siswa memiliki modal untuk mencapai rumusan tujuan pembelajaran. Konsep pembelajaran harus dikembangkan jadi bahan pembelajaran yang memungkinkan warga belajar memperoleh macam-macam materi pembelajaran yakni fakta, konsep, prosedur, dan prinsip. Dengan adanya pengembangan bahan pembelajaran yang teruji memungkinkan proses belajar mengajar dapat dilaksanakan dengan baik.
5)      Pendekatan/Metode/Teknik
Pendekatan berupa suatu pendapat tentang pengajaran bahasa yang didasari falsafah tentang bahasa dan pengajaran bahasa, seperti pendekatan komunikatif dan pendekatan alamiah. Teknik pembelajaran digunakan untuk mengurutkan setiap langkah kegiatan. Teknik yang dapat digunakan seperti pemberian, penjelasan, diskusi. Pendekatan dan metode maupun teknik merupakan subsistem yang digunakan dalam pembelajaran.
6)      Media/Alat peraga
Penyampaian materi pembelajaran memerlukan media suatu alat. Alat yang digunakan dalam pembelajaran disebut media belajar (alat peraga). Alat ini digunakan hanya untuk membantu memperjelas siswa kepada hal-hal yang memang belum jelas. Media membentuk warga belajar terhindar dari verbalisme, karena sesuatu yang dikatakan ditunjukan dengan bendanya atau tiruannya.
7)      Evaluasi
Evaluasi digunakan untuk mengukur kemampuan (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) warga belajar setelah mengkaji konsep pembelajaran. Evaluasi yang dilaksanakan dapat berupa evaluasi lisan, evaluasi tulisan, dan evaluasi perbuatan. Evaluasi dapat dilaksanakan dengan  pertanyaan tulisan yang di jawab dengan lisan, atau pertanyaan lisan dijawab dengan lisan. Evaluasi tulisan diharapkan warga belajar menjawab dengan tulisan. Evaluasi perbuatan menekankan warga belajar untuk melakukan suatu kegiatan berupa motorik (gerak), seperti mengekpresikan suatu adegan bagian drama, menunjukkan perilaku senang/susah/sedih, dan sebagainya.

b.      Pengamatan yang Tepat
Hasil pengamatan yang terkontrol dapat dijadikan dasar pengembangan sistem perencanaan pembelajaran.  Hal ini memungkinkan karena pengamatan adalah pengawasan terhadap perbuatan (kegiatan, keadaan) orang lain; penelitian, perbuatan mengamati dengan penuh. Hasil pengamatan yang relevan diantaranya ialah pengamatan terhadap kebutuhan siswa dalam kemampuan menulis. Kesimpulan hasil pengamatan dapat dijadikan dasar pengembangan sistem perencanaan, yaitu diantaranya dalam hal perencanaan tujuan, bahan, teknik, media/alat dan evaluasi.

c.       Percobaan Terkontrol
Percobaan tergolong kepada kegiatan penelitian. Percobaan yang dapat dijadikan dasar pengembangan sistem perencanaan pembelajaran ialah percobaan yang terkontrol. Ilustrasi tentang tingkat perkembangan kemampuan berpidato dua kelompok warga belajar keturunan asing. Kelompok pertama diberi pelajaran dengan menggunakan metode elektrik dan metode terjemahan dengan dibantu media video kaset dapat berpidato dengan frekuensi kata rata-rata 100 entri sedangkan kelompok kedua dengan menggunakan metose elektrik, dan metode terjemahan tanpa  dibantu media video kaset dapat berpidato dengan frekuensi kata rata-rata 500 entri. Nantinya akan diperoleh kesimpulan bahwa pengajaran Bahasa Indonesia bagi orang asing dengan menggunakan metode elektrik, dan metode terjemahan dengan dibantu media video kaset lebih baik daripada dengan menggunakan metode elektrik, dan metode terjemahan dengan tanpa dibantu vieo kaset. Hal ini dapat dijadikan rekomendasi terhadap dasar pengembangan sistem perencanaan pembelajaran.

C.      Model Sistem Pengembangan Pembelajaran
Paradigma (model) pengembangan pembelajaran sering dibedakan dengan teori belajar. Teori belajar menjelaskan fungsi-fungsi yang ada pada siswa, berdasarkan ilmu jiwa eksperimen terutama yang menjelaskan proses pada warga belajar, mekanisme yang terjadi pada warga belajar, perubahan tingkah laku warga belajar akibat interaksi dengan lingkungan. Sedangkan model  pengembangan pembelajaran menentukan kondisi dan lingkungan untuk mengubah dan mengamati tingkah laku siswa. Hal ini menekankan pada usaha untuk menentukan prosedur secara khusus dalam mengamati berbagai macam klasifikasi tingkah laku warga belajar, dan prosedur untuk mengubah rangsangan agar tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan intekrasi dengan lingkungan. Paradigma yang dikembangkan ialah dengan menentukan kondisi dan lingkungan untuk mengubah dan mengamati tingkah laku siswa.






















KEPUSTAKAAN
Husein, Akhlan & Rahman. 1996. Perencanaan Pengajaran Bahasa. Jakarta: Depdiknas.



.