Tampilkan postingan dengan label Perencanaan Pembelajaran Bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perencanaan Pembelajaran Bahasa. Tampilkan semua postingan
Rpp Memahami dialog interaktif pada tayangan televisi / siaran radio
Hai blogger, kemaren ada yang ngirim mention sama aku, dia bilang tulisan aku di blog ini sangat membantu pengerjaan skripsinya dia. Jujur ya blogger, kemaren aku sempat kehilangan semangat buat ngeblog lagi, habis mikirnya apa yang aku tulis di blog ini gak ada yang liat, tenyata masih bermanfaat. Terima Kasih kak Reve :D. Oke, tanpa banyak basa basi lagi, kali ini aku akan posting RPP tentang Memahami dialog
interaktif pada tayangan televisi / siaran radio. Ini hasil kerja keras aku lo. Ternyata bikin RPP yang "sebenarnya" itu sulit. Dan yang berikut bisa dijadikan sebagai contoh.
DOWNLOAD
DOWNLOAD
Senin, 04 Maret 2013
Analisis Kebutuhan, Pembelajaran, dan Karakter Siswa
Analisis
Kebutuhan, Pembelajaran, dan Karakter Siswa
1. Kebutuhan
Kebutuhan adalah kesenjangan
keadaan saat ini dibandingkan dengan keadaan yang seharusnya. Dengan kata lain,
setiap keadaan yang kurang dari yang seharusnya menunjukan adanya kebutuhan.
2. Analisis
Kebutuhan
Analisis kebutuhan merupakan
aktivitas ilmiah untuk mengidentifikasi faktor-faktor pendukung dan penghambat
proses pembelajaran guna memilih dan menentukan media yang tepat dan relevan
mencapai tujuan pembelajaran dan mengarah pada peningkatan mutu pendidikan. Analisis
kebutuhan ditujukan untuk menentukan keperluan atau harapan yang ingin dimiliki
warga belajar, setelah warga belajar menyelesaikan suatu jenjang pendidikan.
Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi penurunan kualitas dari kualifikasi yang
harus dipenuhi.
Contoh
a. Kebutuhan
lulusan PGSM Pendidikan Bahasa Indonesia yang mahir membuat TPK pengajaran
Bahasa Indonesia yang memenuhi komponen dari kriteria.
b. Kebutuhan
lulusan SLTP yang dapat membuat ringkasan cerita pendek.
Analisis ini dilaksanakan agar
tidak terjadi penyimpangan dari yang seharusnya dikuasai.
3. Analisis
Pembelajaran
Menurut Abdul Razak (2011:2),
analisis pembelajaran merupakan proses penjabaran prilaku umum menuju ke
perilaku khusus yang tersusun secara logis dan sistematis. Dengan tersusunnya
gambaran prilaku khusus dari yang paling awal hingga akhir. Selanjutnya menurut
Dick dan Carrey (dalam Abdul Razak, 2011:4), analisis pembelajaran adalah
seperangkat prosedur yang bisa diterapkan dalam suatu tujuan pembelajaran
menghasilkan identifikasi
langkah-langkah yang relevan bagi
penyelengaraan suatu tujuan dan kemampuan subordinat yang dibutuhkan
oleh mahasiswa untuk mencapai tujuan. Jadi analisis pembelajaran adalah proses
menjabarkan kompetensi umum menjadi kompetensi khusus yang tersusun secara
logis dan sistematik.
Kegiatan tersebut dimaksudkan untuk
mengidentifikasi perilaku-perilaku khusus yang dapat menggambarkan perilaku
umum secara lebih terperinci. Dari susunan tersebut jelas kedudukan perilaku
khusus yang dilakukan terlebih dahulu dari perilaku yang lain karena berbagai
hal. Dengan melakukan analisis pembelajaran, akan tergambar susunan kompetensi
khusus dari yang paling awal sampai yang paling akhir. Baik jumlah maupun
susunan perilaku tersebut akan memberikan keyakinan kepada pengajar bahwa
kompetensi umum yang tercantum dalam tujuan pembelajaran umum dapat dicapai
secara efektif dan efisien. Dengan perkataan lain, melalui tahap
perilaku-perilaku khusus tertentu siswa akan mencapai perilaku umum. Perilaku khusus
yang telah tersusun secara sistematik menuju perilaku umum itu laksana jalan
yang singkat yang harus dilalui siswa untuk mencapi tujuannya dengan baik.
4. Jenis
Struktur Perilaku
Bila prilaku umum diuraikan menjadi
prilaku khusus akan terdapat empat macam susunan yaitu
a. Struktur
Hierarkhikal
Struktur yang hierarkhikal adalah
kedudukan dua prilaku yang menunjukan bahwa salah satu prilaku hanya dapat
dilakukan bila telah dikuasai prilaku yang lain.
Contoh
1) Kedudukan
prilaku menetapkan Statistika Lanjutan dan menerapkan Statistika Dasar.
2) Kedudukan
prilaku mengukur luas sebidang tanah tertentu terhadap mengukur prilaku panjang
benda.
3) Kedudukan
prilaku mengambil keputusan terhadap prilaku menganalisis alternatif pemecahan
masalah.
b. Struktur
Prosedural
Strukutur prilaku prosedural adalah
kedudukan beberapa prilaku yang menunjukkan satu seri urutan penampilan prilaku,
tetapi tidak ada yang menjadi prilaku prasyarat untuk yang lain.
Contoh
1) Dalam
melakukan prilaku umum lari cepat.
2) Dalam
menggunakan OHP.
3) Dalam
mengetik dan menggunakan mesin ketik biasa.
c. Struktur
Pengelompokan
Struktur pengelompokan yaitu prilaku
khusus yang tidak mempunyai ketegantungan antara satu dengan yang lain walaupun
semuanya berhubungan. Contohnya dalam menunjukan batas-batas provinsi.
d. Struktur
Kombinasi
Struktur kombinasi yaitu suatu
prilaku umum yang bila diuraikan menjadi prilaku khusus sebagian besar akan
terstruktur secara kombinasi antara struktur hirarkhikal, prosedural, dan
pengelompokan.
5. Prosedur
Analisis Pembelajaran
a. Menuliskan
prilaku umum yang telah ada dalam tujuan pembelajaran umum untuk mata pelajaran
yang sedang dikembangkan.
b. Menuliskan
setiap prilaku khusus yang merupakan
bagian dari prilaku umum.
c. Membuat
prilaku khusus kedalam daftar urutan yang logis dari prilaku umum.
d. Menambahkan
prilaku khusus atau perlu dikurangi.
e. Setiap
prilaku khusus ditulis dalam lembar kartu atau kertas ukuran 3x5 cm.
f. Kemudian
kartu disusun dengan menempatkannya dalam struktur hirarkhis prosedural, atau
dikelompokan menurut kedudukan masing-masing terhadap kartu lain.
g. Bila
perlu ditambah dengan prilaku khusus lain atau dikurangi sesuai kedudukan
masing-masing.
h. Letak
prilaku digambarkan dalam bentuk kotak-kotak diatas kertas lebar sesuai dengan
letak kartu yang telah disusun.
i.
Hubungkan kotak-kotak yang telah
digambar dengan garis-garis vertikal dan horizontal untuk menyatakan
hirarhikal, prosedural, dan pengelompokan.
j.
Meneliti kemungkinan hubungan prilaku
umum yang satu dengan yang lain atau prilaku khusus yang berada di bawah
prilaku umum yang berbeda.
k. Memberi
nomor urut pada setiap prilaku khusus dimulai dari yang terjauh hingga yang
terdekat dari prilaku umum.
6. Prilaku
dan Karakteristik Siswa
Kegiatan menganalisis perilaku dan karakteristik siswa
dalam mengembangkan pembelajaran merupakan pendekatan yang menerima siswa apa
adanya dan menyusun sistem pembelajaran atas dasar keadaan siswa tersebut.
Karakteristik siswa merupakan salah satu variabel pengajaran. Variabel ini
didefenisikan sebagai aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa. Aspek-aspek
ini bisa berupa bakat, minat, sikap, motivasi belajar, kemampuan berpikir, dan
kemampuan awal (hasil belajar) yang telah dimilikinya.
Karakteristik sangat menentukan dalam proses pemilihan
strategi pengolahan, yang berkaitan dengan bagaimana menata pengajaran,
khususnya komponen-komponen, strategi pengajaran agar sesuai dengan
karakteristik perseorangan siswa.
Dua
macam informasi diperlukan agar bisa menyusun program pengajaran dengan baik.
Pertama
: “obyektif” atau tujuan instruksional khusus.
Kedua :
kemampuan awal dan karakteristik siswa.
“Objektif”
atau tujuan instruksional khusus adalah kemampuan, keterampilan, dan sikap yang harus dimiliki oleh siswa manakala ia telah
selesai mengikuti suatu
program pengajaran. Sedang
yang dimaksud dengan kemampuan awal dan karakterisrik siswa adalah kemampuan
dan ketrampilan yang relevan, termasuk di dalamnya yang lain-lain latar
belakang informasi karakteristik siswa yang telah ia miliki pada saat akan
mulai mengikuti suatu program pengajaran.
Problem
sering terjadi bahwa para penyusun desain instruktursional maupun para guru
atau pendidik keliru di dalam
memperkirakan kemampuan dan keadaan siswa. Kadang-kadang perkiraan itu terlalu
rendah (under estimate), namun
kadang perkiraan itu terlalu tinggi (over estimate). Manakala terjadi problem pertama dimana guru
memperkirakan kemampuan siswa terlalu rendah, maka akan terjadi bahwa ia
mengerjakan sesuatu yang tidak perlu. Dengan kejadian ini terjadi penghamburan
waktu yang sangat berguna bahkan membuat siswa bosan. Sedangkan manakala terjadi bahwa guru
memperkirakan terlalu tinggi akan kemampuan siswa yang akan diajarnya, maka
siswa tersebut akan tidak memiliki latar belakang pengetahuan yang diperlukan
dan siswa akan mengalami kesulitan didalam mengikuti pelajaran tersebut.
Dalam
hal ini guru perlu memberikan pengejaran pendahuluan untuk menyiapkan siswa
agar dapat dengan mudah mengikuti pelajaran yang dimaksud. Untuk mengatasi problem-problem
tersebut, guru perlu memiliki keterampilan di dalam
menganalisis kemampuan dan karakteristik siswa. Bagaimana caranya? Adalah menjadi kelaziman bahwa para guru
atau pendidik untuk mencatat atau memperhatikan akan adanya perbedaan-perbedaan individual
diantara para siswanya. Mereka
mengetahui bahwa siswa datang
ke sekolah dengan membawa berbagai bekal
kemampuan. Mereka
mengetahui pula bahwa para siswa
datang dari berbagai latar belakang keluarga
yang berbeda-beda.
Di
dalam menyusun rencana pengajaran, adalah sukar untuk dapat sepenuhnya melayani
masing-masing individual yang satu sama lain berbeda tersebut. Oleh karena itu,
cara yang terbaik adalah menyusun rencana pengajaran yang sebaik-baiknya yang
dapat memenuhi keadaan siswa yang sebanyak-banyaknya. Oleh karena itulah pengetahuan, kemampuan atau keterampilan dalam “menganalisis kemampuan
awal dan karakteristik siswa” sangat penting baik bagi para penyusun desain
instruksional, para guru maupun para ahli media dan teknologi pendidikan. Di dalam menganalisis karakteristik
siswa, ada tiga hal yang perlu diperhatikan.
1. Karakteristik atau keadaan yang berkenaan
dengan kemampuan awal atau “prerequisite skills” seperti : kemampuan
intelektual, kemampuan berfikir, mengucapkan, dan kemampuan gerak atau “psychomotor skills”, misalnya keterampilan menggerakkan tangan, kaki, dan badan.
2. Karakteristik yang berhubungan dengan
latar belakang dan status sosial dan kebudayaan (sociocultural).
3. Karakteristik
yang berkenaan dengan perbedaan-perbedaan
kepribadian seperti: sikap, perasaan, minat, dan sebagainya.
Kegunaaan mengetahui semua aspek keadaan
individu siswa tersebut adalah
untuk dapat memilih pola-pola pengajaran yang lebih baik, yang paling menjamin kemudahan belajar bagi setiap siswa. Para guru,
para ahli media dan teknologi pendidikan, hendaknya
dapat menganalisis keadaan siswa dengan mengetahui pertanyaan-pertanyaan yang
perlu disampaikan, begaimana
mendapatkan jawab atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dan kemudian dapat
menafsirkannya dalam arti menjelmakannya dalam strategi instruksional yang
sesuai dengan keadaan siswa. Dengan demikian prinsip penyusunan desain instruksional
yang sebaik-baiknya untuk setiap individu akan melengkapi prinsip penyusunan desain instruksional yang paling baik
untuk siswa yang paling
banyak.
7. Teknik
Analisis Karakteristik Awal Siswa
Pada dasarnya analisis
karakteristik siswa dilaksanakan dengan kita mengetahui kemampuan awal dan
lain-lain informasi yang dapat kita peroleh dari siswa tersebut.
Dalam hal ini bias dikemukakan adanya
empat teknik yaitu
a. Dengan
menggunakan catatan-catatan atau dokumen yang tersedia. Dokumen yang dimaksud
misalnya nilai Surat Tanda Tamat Belajar (STTB), nilai rapor, nilai tes
intelegensi, dan nilai tes masuk. Catatan-catatan mengenai prestasi dalamn berbagai
bidang kegiatan yang pernah diperoleh, kesemuanya merupakan informasi yang
sangat berguna untuk mengetahui keadaan siswa.
b. Dengan
menggunakan tes prasyarat dan tes awal. Tes prasyarat adalah tes untuk
mengetahui apakah siswa telah memiliki pengetahuan atau keterampilan yang
diperlukan atau disyaratkan untuk mengikuti suatu pelajaran. Sedangkan tes awal
adalah tes untuk mengetahui seberapa jauh siswa telah memiliki pengetahuan atau
keterampilan mengenai ajaran yang hendak diikuti. Sangat baik sekali bagi guru
untuk mengadakan pre tes sebelum memulai suatu unit pelajaran. Hasil pre tes
sangat berguna di samping untuk mengetahui seberapa jauh pengetahuan yang telah
dimiliki juga berguna sebagai perbandingan dengan hasil yang dicapai setelah
mengikuti pelajaran.
c. Dengan
mengadakan konsultasi individual. Dengan mengadakan konsultasi individual
terhadap siswa, amak guru akan lebih dapat mengadakan pendekatan secara
personal untuk guru memperoleh informasi mengenai minat, sikap, keinginan
siswa, dan sebagainya.
d. Dengan
menyampakan angket atau questionnaire. Angket bisa disusun kemudian disampaikan
kepada siswa misalnya untuk mengetahui gaya belajar mereka. Gaya belajar ada
bermacam-macam misalnya: dependent, independent, competitive, participant, dan
sebagainya. Dengan mengetahui gaya belajar siswa, guru akan dapat menyusun
rencana pembelajaran sesuai dengan keadaan kelompok siswa tersebut. Misalnya
bila kebanyakan gaya belajar siswa dalam suatu kelas adalah independent, adalah
tepat sekali kalau guru menyusun strategi instruksional yang memungkinkan siswa
belajar sesuai dengan kecepatan dan kesempatan masing-masing.
KEPUSTAKAAN
Gafur, Abdul. 1980. Desain Instruksional. Solo: Tiga Serangkai.
Suparman, Atwi dan Purwanto. 1997. Analisis Pembelajaran. Jakarta:
Depdikbud.
Razak, Abdul. 2011. Analisis Pembelajaran dan Identifikasi Perilaku dan Karakterisitik Awal
Siswa.
Setijdadi. 1992. Disain Instruksional. Padang: UNP Press.
PERENCANAAN PENGAJARAN BAHASA
PERENCANAAN
PENGAJARAN BAHASA
A. BATASAN
1. Perencanaan
Menurut Akhlan Husein dan Rahman
(1996:3), perencanaan adalah suatu proses dan cara berpikir yang dapat membantu
pencapaian suatu hasil yang diharapkan. Sependapat dengan Husein, menurut Hidayat
(dalam Husein,1996:3), perencanaan adalah sebagai suatu proses penyusunan
berbagai keputusan yang akan dilaksanakan dalam pencapaian tujuan yang telah
ditetapkan. Selanjutnya menurut asumsi Terry (dalam dheanurulagustina,online)
ia menyatakan bahwa perencanaan adalah menetapkan pekerjaan yang harus
dilaksanakan oleh kelompok untuk dapat mencapai tujuan yang telah digariskan.
Jadi dari pendapat para ahli tersebut,
dapat disimpulkan bahwa perencanaan itu adalah hasil pemikiran yang berupa
keputusan yang akan dilaksanakan. Pemikiran yang dirumuskan berupa perencanaan
itu biasanya disusun logis, sistematis, rasional, dan dapat dibuktikan
kebenarannya.
2. Pembelajaran
Akhlan Husein dan Rahman (1996:3)
menyatakan bahwa pembelajaran mengandung pengertian proses, cara, menjadikan
orang atau makhluk hidup belajar. Selanjutnya menurut Oemar Hamalik (dalam
dhenurulagustina,online), pembelajaran merupakan suatu kombinasi yang tersusun
meliputi unsur-unsur manusiawi, material, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur
yang saling mempengaruhi dalam mencapai tujuan pembelajaran. Tarigan dan Husein
(dalam dheanurulagustina,online) juga menyatakan bahwa pembelajaran adalah
proses belajar. Pembelajaran merupakan proses belajar yang dilakukan oleh siswa
dalam memahami materi kajian yang tersirat dalam pembelajaran. Pembelajaran
bersinonim dengan istilah proses belajar, kegiatan belajar, atau pengalaman belajar.
Pembelajaran menjadi titik tolak dalam merancang, merencanakan, dan
mengevaluasi proses belajar mengajar bahasa Indonesia
Jadi dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar
3. Pengajaran
Menurut Jones A. Majid (dalam
fisika79wordpress,online), pengajaran
adalah suatu cara bagaimana mempersiapkan pengalaman belajar bagi peserta
didik. Dengan kata lain pengajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh para
guru dalam membimbing, membantu, dan mengarahkan peserta didik untuk memiliki
pengalaman belajar. Sependapat dengan Majid, menurut Tardif (dalam
Muhibin,1987:35), pengajaran adalah memberi arti instruction secara lebih rinci
yaitu a preplanned, goal directed educational process designed tofacilitate
learning, artinya adalah sebuah proses kependidikan yang sebelumnya
direncanakan dan diarahkan untuk mencapai tujuan serta dirancang untuk
mempermudah belajar.
Jadi dari beberapa kesimpulan di
atas dapat disimpulkan bahwa pengajaran adalah suatu proses yang dilakukan oleh
para pendidik dalam membimbing, membantu dan mengarahkan peserta didik untuk
memiliki pengalaman belajar.
4. Perencanaan
Pembelajaran
Menurut Akhlan Husein dan Rahman
(1996:3), perencanaan pembelajaran adalah suatu proses penyusunan serangkaian
kegiatan untuk menjadikan orang atau makhluk hidup belajar. Sependapat dengan
Husein dan Rahman, menurut Banghart dan Trull (dalam dheanurulagustina,online),
perencanaan pembelajaran merupakan proses penyusunan materi pelajaran,
penggunaan media pembelajaran, penggunaan pendekatan atau metode pembelajaran,
dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada masa satu semester yang
akan datang untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa perencanaan pembelajaran adalah proses yang di atur
sedemikian rupa menurut langkah-langkah tertentu baik berupa penyusunan materi
pengajaran, penggunaan media, maupun model pembelajaran lainnya yang
dimaksudkan agar pelaksanaannya berjalan optimal.
B. KEGUNAAN
PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Terdapat
beberapa fungsi yang dikemukakan oleh Oemar hamalik (pragmatikbahasaindonesia,online)
bahwa pada garis besarnya perencanaan pembelajaran berfungsi sebagi berikut.
1. Memberi
guru pemahaman yang lebih jelas tentang tujuan pendidikan sekolah dan
hubungannya dengan pembelajaran yang dilakukan untuk mencapai tujuan itu.
2. Membantu
guru memperjelas pemikiran tentang sumbangan pembelajarannya terhadap
pencapaian tujuan pendidikan.
3. Menambah
keyakinan guru atas nilai-nilai pembelajaran yang diberikan dan prosedur yang
digunakan.
4. Membantu
guru dalam rangka mengenal kebutuhan-kebutuhan siswa, minat-minat siswa dan
mendorong motivasi belajar.
5. Mengurangi
kegiatan yang bersifat trial dan error dalam mengajar dengan adanya organisasi
yang baik dan metode yang tepat.
6. Membantu
guru memelihara kegairahan mengajar dan senantiasa memberikan bahan-bahan yang
up-todate pasa siswa.
C. PEMBELAJARAN
BAHASA SEBAGAI SUATU SISTEM
1. Pengertian
Sistem
Menurut
KUBI Poerwadarminta (dalam Husein dan Rahman,1997:7), sistem mengandung tiga
pengertian. Pengertian yang pertama, sistem yakni sekelompok bagian-bagian yang
bekerja bersama-sama untuk melakukan suatu maksud. Pengertian kedua, sistem
adalah sekelompok pendapat, peristiwa kepercayaan, yang disusun dan diatur
baik-baik. Sedangkan pengertian ketiga, sistem yaitu cara (metode) yang teratur
untuk melakukan sesuatu. Selanjutnya menurut Teknologi Instruksional (dalam
Husein dan Rahman,1997:7), sistem adalah serangkaian komponen/bagian yang saling
berkaitan dan berfungsi ke arah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan
terlebih dahulu. Pendapat tersebut didukung oleh buku Disain Instruksional
(Gafur,1982:14) yang menjelaskan sistem sebagai suatu gabungan dari
komponen-komponen yang terorganisir sebagai suatu kesatuan, dengan maksud untuk
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Jadi dari pendapat tersebut dapat
disimpulkan bahwa sistem adalah gabungan komponen yang bekerja sama dan saling
berpengaruh dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan.
2. Ciri-ciri
Sistem
a.
Sistem memiliki tujuan. Tujuan inilah
yang menjadi pemotivasi yang mengarahkan sistem. Tanpa tujuan, sistem menjadi
tak terarah dan tak terkendali. Tujuan
antara satu sistem dengan sistem yang lain berbeda.
b.
Sistem terdiri dari sejumlah komponen
yang saling berinteraksi, yang artinya saling bekerja sama membentuk satu
kesatuan. Komponen-komponen sistem atau elemen-elemen sistem dapat berupa suatu
subsistem atau bagian-bagian dari sistem. Setiap subsistem mempunyai
sifat-sifat dari sistem untuk menjalankan suatu fungsi tertentu mempengaruhi
proses sistem secara keseluruhan. Adapun yang dimaksud dengan gabungan komponen
adalah gabungan yang melaksanakan suatu fungsi untuk menunjang usaha mencapai
tujuan sistem. Penunjang usaha tersebut ada yang tergolong ke dalam komponen
integral dan ada pula yang tergolong ke dalam komponen yang nonintegral. Komponen
integral adalah bagian dari sistem yang tidak boleh dipisahkan dari sistem
tersebut, Kehadirannya mutlak diperlukan, tanpa komponen ini tidak akan mencapai tujuan. Sedangkan komponen
nonintegral adalah bagian dari sistem yang apabila tidak berfungsi atau
dihilangkan tidak akan membekukan sistem.
c.
Sistem memiliki fungsi maksudnya suatu
sistem yang akan bergabung dengan komponen lain selalu mempunyai fungsi. Fungsi
inilah nantinya yang akan menentukan pentingnya sebuah sistem.
d.
Adanya interaksi dalam suatu sistem
maksudnya adalah komponen-komponen yang bergabung dalam sistem akan berinteaksi
untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai oleh sistem tersebut.
e.
Adanya keterpaduan dalam suatu sistem
maksudnya adalah komponen-komponen dalam suatu sistem berpadu membentuk suatu
kesatuan agar mencapai tujuan yang ingin dicapai.
f.
Sistem mempunyai proses transformasi
atau proses pengubahan masukan menjadi hasil maksudnya adalah sistem dapat
mengubah sesuatu yang dimasukan ke dalam sistem menjadi suatu yang lebih
bermanfaat dari sebelum benda tersebut dimasukan ke dalam sistem.
g.
Sistem punya mekanisme umpan balik
maksudnya adalah mekanisme pengendalian diwujudkan dengan menggunakan umpan balik,
yang mencuplik hasil dari masukan yang dimasukan ke dalam sistem. Umpan balik
ini digunakan untuk mengendalikan baik masukan maupun proses. Tujuannya adalah
untuk mengatur agar sistem berjalan sesuai dengan tujuan.
h.
Sistem mempunyai lingkungan atau
batas-batas maksudnya adalah lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di luar sistem.
Lingkungan bisa berpengaruh terhadap operasi sistem dalam arti bisa merugikan
atau menguntungkan sistem itu sendiri. Yang disebut batas sistem adalah pemisah
antara sistem dan daerah di luar sistem. Batas sistem menentukan konfigurasi,
ruang lingkup, atau kemampuan sistem.
Pembelajaran sebagai suatu sistem
merupakan suatu pendekatan belajar yang menekankan hubungan sistemik antara
berbagai komponen dalam pembelajaran. Hubungan sistemik mempunyai arti bahwa
semua komponen yang terpadu dalam satu pembelajaran sesuai dengan fungsinya
saling berhubungan satu sama lain dan membentuk suatu kesatuan. Hubungan
sistemik atau penekanan kepada sistem merupakan ciri pertama dari pembelajaran.
Ciri kedua adalah penekanan pada prilaku yang dapat diukur atau diamati.
Di
dalam suatu pembelajaran tentunya terdapat sebuah sistem agar proses
pembelajaran dapat berjalan dengan baik dan terarah tepat sasaran. Apabila
sistem pendidikan nasional ingin lebih diorientasikan kepada penyiapan sumber daya
manusia era informasi maka yang terlebih dahulu dilakukan adalah pengembangan
sistem pembelajarannya.
D. KARAKTERISTIK
PEMBELAJARAN BAHASA
Karakteristik
perencanaan pengajaran menurut Akhlan dan rahman (1997:7) sebagai berikut.
1. Mengembangkan
hubungan interaksi yang baik diantara sesama manusia, dalam hal ini siswa dan
guru serta personal terkait.
2. Merupakan
suatu wahana atau wadah untuk mengembangkan segala potensi yang ada dan
dimiliki oleh anak didik.
3. Memiliki
sikap objektif rasio (teoat dan masuk akal), komprehesif dan sistematis menyeluruh
dan tersusun rapi).
4. Mengendalikan
kekuatan sendiri, bukan didasarkan atas kekuatan orang lain.
5. Didukung
oleh fakta dan data yang menunjang pencapaian tujuan yang telah dirumuskan.
6. Fleksibel
dan dinamis, artinya mudah disesuaikan dengan keadaan serta perkembangan ke arah
yang lebih baik dan maju.
KEPUSTAKAAN
Husein, Akhlan & Rahman. 1996. Perencanaan Pengajaran Bahasa. Jakarta:
Depdiknas.
Gafur, Abdul. 1980. Disain Instruksional. Solo: Tiga Serangkai.
Nurul, Dhea. 2012. “Perencanaan Pembelajaran”.
(online). (www.dheanurulagustina.blogspot.com,
11 Februari 2013).
Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. (online). (http://delsajoesafira.blogspot.com/2010/05/definisi-pembelajaran.html,
11 Februari 2013).
Fisika79. 2011. “Pengertian Pengajaran”. (online). (http://fisika79.wordpress.com/2011/04/26/pendidikan-dan-pengajaran/,
11 Februari 2013).
PragmatikbahasaIndonesia. 2012. “Perencanaan
Pembelajaran”. (online). (http://pragmatikbahasaindonesia.blogspot.com/2012_05_01_archive.html,
12 Februari 2013).
PENGEMBANGAN SISTEM PERENCANAAN PEMBELAJARAN
PENGEMBANGAN
SISTEM PERENCANAAN PEMBELAJARAN
A.
Pengertian Pengembangan Sistem Pembelajaran
Pengembangan mengandung pengertian cara
membuat tumbuh secara teratur untuk menjadikan sesuatu lebih besar, lebih baik,
lebih efektif, dan sebagainya (Husein dan Rahman,1997:28). Selanjutnya pengembangan
sistem mengandung maksud cara membuat penjabaran, pelengkapan komponen sistem
agar setiap komponen tumbuh (dalam Husein dan Rahman,1997:28). Seterusnya Ely
mengemukakan pendapatnya bahwa pengembangan sistem pembelajaran berarti suatu
proses secara sistematis dan logis untuk mempelajari problem-problem
pembelajaran agar mendapat pemecahan yang teruji validitasnya, dan praktis bisa
dilaksanakan (dalam Husein dan Rahman,1997:28).
Istilah yang berhubungan dengan pengembangan
pembelajaran ialah sistem instruksional dan disain instruksional. Menurut Baker
(dalam Husein dan Rahman,1997:28), sistem instuksional adalah semua materi
(konsep) pembelajaran dan metode yang telah diuji dalam praktek yang
dipersiapkan untuk mencapai tujuan dalam keadaan yang sebenarnya. Adapun yang
dimaksud dengan disain instuksional adalah adalah keseluruhan proses analisis
kebutuhan dan tujuan serta pengembangan teknik mengajar dan materi pembelajaran
untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dalam kegiatan ini termasuk pengembangan
paket pembelajaran, kegiatan mengajar, uji coba, revisi, dan kegiatan evaluasi
hasil belajar (Briggs dalam Husein dan Rahman,1997:28).
Jadi dapat disimpulkan bahwa antara
pengembangan sistem pembelajaran dengan sistem
instruksional dan desain instruksional ada kesamaan dan keterkaitan.
Pengembangan sistem pembelajaran menekankan pada proses yang sistematis dan
logis. Sistem instruksional menekankan pada materi dan metode; dan desain
instruksional menekankan pada kebutuhan, tujuan, teknik, materi pembelajaran
untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Keterkaitan ini mengarah pada tujuan yang
ingin dicapai, yaitu tujuan pembelajaran.
B.
Dasar Pengembangan Sistem Perencanaan
Pembelajaran
Pengembangan sistem instruksional perencanaan
pembelajaran didasarkan atas empiris dan prinsip yang telah teruji.
1.
Empiris
Pengembangan berdasarkan empiris
berarti pengembangan yang berdasarkan pengalaman. Untuk pemerolehan pengalaman,
banyak kegiatan yang telah dilakukan orang. Salah satu contoh kegiatan yang
bersifat empiris ialah penelitian tentang kurikulum pendidikan.
Kurikulum sekolah pendidikan dasar dan
menengah di Indonesia sejak tahun 1968 sampai dengan tahun 1996/1997 telah
mengalami tiga kali perubahan.
Kurikulum Pendidikan Dasar dan
Menengah Tahun 1968 sering disebut Kurikulum 1986 diubah menjadi Kurikulum
Pendidikan Dasar dan Menengah Tahun 1975 (sering disebut kurikulum 1975).
Selama lebih kurang delapan tahun pemberlakuan Kurikulum 1986, pada tahun 1975
diubah dan disempurnakan menjadi Kurikulum 1975.
Kurikulum 1975 mulai berorientasi
kepada tujuan yang ingin dicapai warga belajar. Kurikulum ini berlaku lebih
kurang sembilan tahun, karena diubah menjadi Kurikulum Penddikan dasar dan
Pendidikan menengah 1984 (sering disebut Kurikulum 1984).
Kurikulum 1994 adalah penyempurnaan
Kurikulum 1984. Dalam kurikulum ini komponen tujuan yang ingin dicapai siswa
tetap ada, namun namanya yang pada Kurikulum 1984 disebut tujuan kurikuler,
tujuan instruksional, pada Kurikulum 1994 istilahnya tujuan pembelajaran umum
(TPU), tujuan pembelajaran khusus (TPK). Sistem unit pun dilebur menjadi sistem
tema/anak tema. Bahan pelajaran diganti istilahnya menjadi konsep pembelajaran.
Pada pembelajaran harus terdapat empat keterampilan berbahasa (menyimak,
berbicara, membaca, dan menulis).
2.
Prinsip yang Telah Teruji
Prinsip yang telah teruji senantiasa melalui
langkah prosedur yang sistematis, pengamatan yang tepat, dan percobaan
terkontrol.
a.
Prosedur yang Sistematis
Prosedur yang dimaksud adalah suatu tahap
kegiatan untuk menyelesaikan suatu aktivitas. Aktivitas ini dilaksanakan
langkah demi langkah secara pasti dalam memecahkan suatu problem. Sistematis
berarti satu langkah dengan langkah lainnya berhubungan saling berpengaruh,
saling mendukung yang memungkinkan aktivitas itu berjalan lancar.
Komponen proses belajar mengajar adalah.
1)
Tujuan Pembelajaran
Langkah pertama proses belajar mengajar ialah
penentu tujuan. Tujuan pembelajaran adalah sesuatu yang ingin dicapai siswa
setelah menyelesaikan suatu konsep pembelajaran. Perumusan tujuan pembelajaran
umum telah ditulis dalam Garis-Baris Besar Program Pengajaran (GBPP). Komponen
tujuan pembelajaran adalah suatu tahap kegiatan belajar mengajar yang turut
memecahkan problem pengajaran.
2)
Murid
Murid adalah orang yang melaksanakan
pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran. Murid dalam suatu kelompok
harus memiliki karakteristik yang relatif sama. Untuk penentuan karakteristik
lazim digunakan empat teknik penentukan karakteristik siswa, mengkaji dokumen,
tes, wawancara, dan observasi.
3)
Guru
Guru adalah orang yang menggerakkan suatu
proses belajar. Tanpa profesionalisme suatu proses belajar mengajar tidak
mungkin mencapai hasil yang baik. Keberadaan guru yang profesional mutlak
menjadi dasar pengembangan sistem pembelajaran.
4)
Konsep Pembelajaran
Konsep pembelajaran mengandung berbagai materi
pembelajaran yang harus dikaji warga belajar. Dengan menguasai sejumlah konsep
pembelajaran berarti siswa memiliki modal untuk mencapai rumusan tujuan
pembelajaran. Konsep pembelajaran harus dikembangkan jadi bahan pembelajaran
yang memungkinkan warga belajar memperoleh macam-macam materi pembelajaran
yakni fakta, konsep, prosedur, dan prinsip. Dengan adanya pengembangan bahan
pembelajaran yang teruji memungkinkan proses belajar mengajar dapat
dilaksanakan dengan baik.
5)
Pendekatan/Metode/Teknik
Pendekatan berupa suatu pendapat tentang
pengajaran bahasa yang didasari falsafah tentang bahasa dan pengajaran bahasa,
seperti pendekatan komunikatif dan pendekatan alamiah. Teknik pembelajaran
digunakan untuk mengurutkan setiap langkah kegiatan. Teknik yang dapat
digunakan seperti pemberian, penjelasan, diskusi. Pendekatan dan metode maupun
teknik merupakan subsistem yang digunakan dalam pembelajaran.
6)
Media/Alat peraga
Penyampaian materi pembelajaran memerlukan
media suatu alat. Alat yang digunakan dalam pembelajaran disebut media belajar
(alat peraga). Alat ini digunakan hanya untuk membantu memperjelas siswa kepada
hal-hal yang memang belum jelas. Media membentuk warga belajar terhindar dari
verbalisme, karena sesuatu yang dikatakan ditunjukan dengan bendanya atau
tiruannya.
7)
Evaluasi
Evaluasi digunakan untuk mengukur kemampuan
(pengetahuan, keterampilan, dan sikap) warga belajar setelah mengkaji konsep
pembelajaran. Evaluasi yang dilaksanakan dapat berupa evaluasi lisan, evaluasi tulisan,
dan evaluasi perbuatan. Evaluasi dapat dilaksanakan dengan pertanyaan tulisan yang di jawab dengan
lisan, atau pertanyaan lisan dijawab dengan lisan. Evaluasi tulisan diharapkan
warga belajar menjawab dengan tulisan. Evaluasi perbuatan menekankan warga
belajar untuk melakukan suatu kegiatan berupa motorik (gerak), seperti
mengekpresikan suatu adegan bagian drama, menunjukkan perilaku
senang/susah/sedih, dan sebagainya.
b.
Pengamatan yang Tepat
Hasil pengamatan yang terkontrol dapat
dijadikan dasar pengembangan sistem perencanaan pembelajaran. Hal ini memungkinkan karena pengamatan adalah
pengawasan terhadap perbuatan (kegiatan, keadaan) orang lain; penelitian,
perbuatan mengamati dengan penuh. Hasil pengamatan yang relevan diantaranya
ialah pengamatan terhadap kebutuhan siswa dalam kemampuan menulis. Kesimpulan
hasil pengamatan dapat dijadikan dasar pengembangan sistem perencanaan, yaitu
diantaranya dalam hal perencanaan tujuan, bahan, teknik, media/alat dan
evaluasi.
c.
Percobaan Terkontrol
Percobaan tergolong kepada kegiatan
penelitian. Percobaan yang dapat dijadikan dasar pengembangan sistem
perencanaan pembelajaran ialah percobaan yang terkontrol. Ilustrasi tentang
tingkat perkembangan kemampuan berpidato dua kelompok warga belajar keturunan
asing. Kelompok pertama diberi pelajaran dengan menggunakan metode elektrik dan
metode terjemahan dengan dibantu media video kaset dapat berpidato dengan
frekuensi kata rata-rata 100 entri sedangkan kelompok kedua dengan menggunakan
metose elektrik, dan metode terjemahan tanpa
dibantu media video kaset dapat berpidato dengan frekuensi kata
rata-rata 500 entri. Nantinya akan diperoleh kesimpulan bahwa pengajaran Bahasa
Indonesia bagi orang asing dengan menggunakan metode elektrik, dan metode
terjemahan dengan dibantu media video kaset lebih baik daripada dengan
menggunakan metode elektrik, dan metode terjemahan dengan tanpa dibantu vieo
kaset. Hal ini dapat dijadikan rekomendasi terhadap dasar pengembangan sistem perencanaan
pembelajaran.
C.
Model Sistem Pengembangan Pembelajaran
Paradigma (model) pengembangan pembelajaran
sering dibedakan dengan teori belajar. Teori belajar menjelaskan fungsi-fungsi
yang ada pada siswa, berdasarkan ilmu jiwa eksperimen terutama yang menjelaskan
proses pada warga belajar, mekanisme yang terjadi pada warga belajar, perubahan
tingkah laku warga belajar akibat interaksi dengan lingkungan. Sedangkan model pengembangan pembelajaran menentukan kondisi
dan lingkungan untuk mengubah dan mengamati tingkah laku siswa. Hal ini
menekankan pada usaha untuk menentukan prosedur secara khusus dalam mengamati
berbagai macam klasifikasi tingkah laku warga belajar, dan prosedur untuk
mengubah rangsangan agar tingkah laku siswa sesuai dengan tujuan intekrasi
dengan lingkungan. Paradigma yang dikembangkan ialah dengan menentukan kondisi
dan lingkungan untuk mengubah dan mengamati tingkah laku siswa.
KEPUSTAKAAN
Husein, Akhlan & Rahman. 1996. Perencanaan Pengajaran Bahasa. Jakarta: Depdiknas.
.
Langganan:
Postingan (Atom)
